BKSDA Jambi Sebut Ini Penyebab Harimau Terkam Pendulang Emas di Merangin

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menilai sumber makanan yang semakin menipis mengakibatkan harimau keluar dari teritorinya hingga mendekati permukiman warga.

BKSDA Jambi Sebut Ini Penyebab Harimau Terkam Pendulang Emas di Merangin
Seksi Observasi Wilayah III BKSDA Jambi, Farid (ist)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menilai sumber makanan yang semakin menipis mengakibatkan harimau keluar dari teritorinya hingga mendekati permukiman warga.

Akibatnya, tak jarang binatang buas ini terlibat konflik dengan masyarakat di Jambi hingga menyebabkan kematian. Baik itu dari harimau itu sendiri, maupun manusia.

Baru-baru ini, seekor harimau terlibat konflik dan menyerang warga di kawasan Batu Tunggal, perbatasan antara Desa Guguk dan Lubuk Beringin Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin. 

Karena itu dengan sigap, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi melakukan upaya dengan menurunkan tim untuk memverifikasi fakta dan kondisi lapangan.

Hasilnya, jejak harimau yang menerkam warga Merangin itu diketahui berukuran panjang 15 cm dan lebar 13 cm. Data tersebut didapatkan Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dari hasil pengecekan dan pengumpulan data di lokasi kejadian. 

Seksi Observasi wilayah III BKSDA Jambi, Farid mengatakan akibat munculnya Harimau di Jambi itu disebabkan karena kelangkaan rantai makanan didalam hutan seperti babi dan rusa. 

"Kelangkaan rantai makanan Harimau seperti Babi Hutan banyak mati karena terkena Virus Afrika serta adanya pemburuan rusa sehingga Harimau di beberapa Daerah Kabupaten keluar dari dalam hutan," ujar Farid, Selasa 28 September 2021.

Farid juga mengatakan terkait Virus Afrika menyerang hewan setelah adanya analisa di lapangan seperti ditemukan bangkai babi menyerupai serangan virus Afrika sehingga pakan harimau berkurang meski demikian virus Afrika tidak berpengaruh kepada manusia. 

"Berdasarkan gejala setelah adanya  laporan-laporan masyarakat, babi selalu ada mendadak mati dan ciri cirinya mengarah kepada virus Afrika dan dalam mengatasi masalah tersebut merupakan jangka panjang Kalau jangka pendek harus menyediakan pakan," ungkapnya. 

Selain virus Afrika, BKSDA juga mengatasi pemburuan Liar seperti berburu babi dan rusa. Apalagi rusa tidak diperbolehkan untuk diburu dan dan pihaknya akan menegakan hukum perburuan rusa tersebut. 

Farid menyebutkan, terkait kelangkaan rantai makanan, BKSDA akan mencari solusi kongkrit untuk mengatasi penyakit yang menyerang virus Afrika terhadap babi, karena rantai makanan harimau pertama babi hutan didalam hutan dan rusa. 

"Dalam penelitian, 35 persen harimau Sumatera hidupnya makan babi dan BKSDA akan mencari solusi mengatasi masalah rantai makanan harimau khususnya Jambi," jelasnya. 

Tidak sampai disitu, BKSDA juga akan mensosialisasikan ke masyarakat agar tidak sembarangan melakukan pemburuan didalam hutan Jambi dan suatu saat babi hutan bisa saja dilindungi, apalagi potensi seperti saat ini babi hutan langka yang merupakan rantai makanan Harimau. 

"Kalau babi hutan sekarang diburu masih bebas namun suatu saat bisa saja dilindungi akibat kelangkaan rantai makanan harimau dan juga rusa baik diluar kawasan konservasi maupun didalam konservasi tidak bisa diburu dan jika diburu ancaman lima tahun penjara dan denda 100 juta," pungkasnya. 

Kontributor: Loadry Apryaldo
Editor: Rhizki Okfiandi