Sandiaga: Saya Pernah Jadi Pengusaha Mebel, tapi Bangkrut

Sandiaga: Saya Pernah Jadi Pengusaha Mebel, tapi Bangkrut

BRITO.ID, BERITA SUKOHARJO - Calon wakil presiden nomor 02 Sandiaga Uno blusukan di desa Trangsan, Gatak yang merupakan sentra kerajinan rotan terbesar di Sukoharjo.

Setelah mendengar keluh kesah dari para pengrajin, Sandi mengatakan bahwa, yang dialami para pengrajin ini dulu pernah dirasakannya saat menggeluti usaha serupa.

"Saya bisa merasakan apa yang dirasakan para pengrajin mebel di Trangsan ini. Karena saya dulu juga pernah jadi pengusaha mebel, tapi bangkrut. Usaha mebel resmi saya tutup pada tahun 2002. Dan saat saya bangkrut, hutang saya banyak, dan saya terpaksa menjual rumah saya untuk melunasi hutang saya pada pengrajin mebel di Cirebon," curhat Sandi, Jumat (28/12).

Desa wisata kerajinan rotan, Trangsan telah membuka peluang 400 UMKM, meskipun menurut Sandi masih menyimpan banyak kendala seperti modal dan ketersediaan bahan baku.

"Selain bahan baku yang sulit, kemudian ada UMKM yang mengalami kesulitan modal, sebenarnya yang harus dibantu terutama di bidang pemasaran," jelas Sandi.

Sandi menekankan pentingnya promosi usaha kerajinan yang harus didukung oleh pemangku kebijakan. Salah satu caranya menurut Sandi adalah membuat pameran di luar negeri demi terbukanya pasar yang lebih luas.

"Jika diberikan amanah (wapres) bahan baku kita pastikan pasokan aman. Kedua, permodalan kita berikan dengan bunga yang tidak 'mencekik', terakhir masalah pemasaran akan kita bantu. Dan saya akan setop ekspor bahan mentah," janji Sandi.

Sandi juga berpesan agar pengrajin rotan terus mengembangkan desa wisata menjadi tujuan wisata kerajinan. Selain bisa meningkatkan ekspor juga bisa menambah penghasilan pengrajin setempat.

"Bisa dijadikan wisata shopping juga di sini. Karena nanti banyak yang beli on the spot," tandasnya.

Bahkan menurut Sandi, untuk memperkenalkan produk kerajinan asal Indonesia diperlukan showroom tetap di luar negeri. "Sehingga kita bisa showcase produk-produk unggulan Indonesia di luar negeri, dan bisa dilakukan secara bergantian oleh masing-masing UMKM," lanjutnya.

Para pelaku usaha kayu juga mengeluhkan susahnya mengurus sertifikasi sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) yang diterapkan pemerintah. Padahal tanpa sertifikasi itu, eksportir mebel atau furnitur bakal kesulitan menembus pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Untuk itu Sandi meminta prosedur sertifikat SVLK sebagai syarat utama untuk produk berbahan kayu bisa diterima di pasar dunia lebih dipermudah.

"Harus dipermudah, itu kan bagian dari birokrasi. Tugas pemerintah melayani masyarakat, melayani dunia usaha. Wong yang bikin ekonomi bergerak ini UMKM-UMKM. Jadi berikan kemudahan birokrasi perijinan yang semudah-mudahnya, " pungkasnya seperti dilansir Okezone.com. (red)