Dianggarkan Rp800 Juta Setahun, Taman Rimba Jambi Malah Tidak Punya Freezer Penyimpanan Makan Hewan

Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Rimba Jambi memastikan pemeliharaan terhadap ratusan satwa tetap berjalan di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Jambi.

Dianggarkan Rp800 Juta Setahun, Taman Rimba Jambi Malah Tidak Punya Freezer Penyimpanan Makan Hewan
Kondisi Taman Rimba Jambi yang Sangat Sepi dari Pengunjung (ist)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Rimba Jambi memastikan pemeliharaan terhadap ratusan satwa tetap berjalan di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Jambi. 

Kepala UPTD Taman Rimba Jambi, Mayong mengatakan bahwa kebun binatang itu tidak seperti kebun binatang swasta pada umumnya yang bergantung dengan adanya kunjungan, agar dapat memberikan pakan pada satwa yang ada di kebun binatang. 

Disampaikan Mayong, Pemerintah Provinsi Jambi tetap menganggarkan dana sekitar Rp 800 Juta per tahun untuk memberikan pakan satwa di Taman Rimba Jambi, walaupun kebun binatang itu sepi pengunjungnya. 

"Kalau kita sudah dianggarkan setiap tahunnya. Jadi, pandemi tidak berpengaruh. Meskipun tutup, tetap kita berikan pakan dan perawatan," kata Mayong, Minggu 12 September 2021.

Mayong juga mengatakan, dengan menggunakan jasa pihak ketiga. Setiap harinya pihak ketiga yang mengantarkan pakan ke sana. 

Sementara itu, Taman Rimba Jambi tidak mempunyai alat (seperti freezer) untuk menyimpan pakan hewan, sehingga pengiriman pakan harus dilakukan setiap harinya. 

Lebih lanjut, Mayong menjelaskan, pegawai di Taman Rimba Jambi ini tidak menjalankan Work Form Home (WFH). Sehingga tidak kekurangan tenaga untuk menangani satwa yang berjumlah sekitar 300 ekor.

Sedangkan para pegawai saat ini harus memakai alat pelindung diri (APD) saat memberikan pakan atau menangani satwa di kebun binatang. 

"Ada surat dari kementerian dan dari BKSDA. Diwajibkan kipper menggunakan APBD saat memberikan makan hewan. Dilakukan sejak awal Agustus tahun 2021, setelah isu harimau mati karena terpapar Covid-19," tutupnya. 

Kontributor: Loadry Apryaldo
Editor: Rhizki Okfiandi