Gubernur Aceh Nonaktif Kembalikan Uang Hasil Korupsi Rp39 Juta ke KPK

Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf mengaku telah mengembalikan uang Rp39 juta ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Uang yang dikembalikan itu terkait dengan kasus penerimaan suap pengalokasian dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) pada tahun anggaran 2018.

Gubernur Aceh Nonaktif Kembalikan Uang Hasil Korupsi Rp39 Juta ke KPK

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf mengaku telah mengembalikan uang Rp39 juta ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Uang yang dikembalikan itu terkait dengan kasus penerimaan suap pengalokasian dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) pada tahun anggaran 2018.

Selain Irwandi, KPK juga telah menetapkan tiga tersangka lainnya, yakni Bupati Bener Meriah nonaktif Ahmadi, Hendri Yuzal yang merupakan staf khusus Irwandi Yusuf, dan Teuku Saiful Bahri dari pihak swasta. "Ada, Rp39 juta," kata Irwandi di Gedung KPK RI, Jakarta, Jumat.

  BACA JUGA
Harga Sejumlah Bahan Pokok di Jambi Turun

Namun, dia tidak mengetahui asal usul uang tersebut dari mana. "Tiba-tiba singgah di rekening saya," ucap Irwandi.

KPK pada hari Jumat memeriksa Irwandi dalam kapasitasnya sebagai tersangka dalam kasus suap tersebut. Diduga sebagai penerima dalam kasus itu adalah Irwandi Yusuf, Hendri Yuzal, dan Teuku Saiful Bahri, sedangkan diduga sebagai pemberi Ahmadi.

Diduga pemberian oleh Bupati Bener Meriah kepada Gubernur Aceh sebesar Rp500 juta bagian dari Rp1,5 miliar yang diminta Gubernur Aceh terkait "fee" ijon proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) di Provinsi Aceh pada tahun anggaran 2018.

Pemberian tersebut merupakan bagian dari komitmen "fee" 8 persen yang menjadi bagian untuk pejabat di Pemerintah Aceh dari setiap proyek yang dibiayai dari dana DOKA.

Adapun pemberian kepada Gubernur dilakukan melalui orang-orang dekat Gubernur Aceh dan Bupati Bener Meriah yang bertindak sebagai perantara. KPK pun masih mendalami dugaan penerimaan-penerimaan sebelumnya.

Dalam kegiatan operasi tangkap tangan terkait dengan kasus itu, KPK total mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga terkait dengan tindak pidana, yaitu uang sebesar Rp50 juta dalam pecahan seratus ribu rupiah, bukti transaksi perbankan Bank BCA dan Bank Mandiri, dan catatan proyek.

Sebagai pihak yang diduga pemberi, Ahmadi disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) Huruf a atau Huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001.

  BACA JUGA
Harga Karet di Jambi Naik Rp1000 Per Kilogram

Sebagai pihak yang diduga penerima Irwandi Yusuf, Hendri Yuzal, dan Teuku Saiful Bahri disangkakan melanggar Pasal 12 Huruf a atau Pasal 12 Huruf b atau Pasal 11 UU No. 31/1999 yang diubah dengan UU No. 20/2001 jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. (*)