Kemarau Melanda, Debit Sungai Batang Tebo Menyusut: Kedalaman Kini Tinggal Sepinggang
BRITO.ID, BERITA BUNGO — Musim kemarau mulai memberikan dampak nyata terhadap kondisi sumber air di sejumlah wilayah Kabupaten Bungo. Salah satunya terlihat dari menyusutnya debit sungai Batang Tebo di kawasan Dusun Tenam.
Aliran sungai yang biasanya memiliki kedalaman cukup tinggi kini terlihat jauh lebih dangkal, sementara sebagian dasar sungai mulai tampak dan aktivitas warga terlihat di tepian hingga bagian aliran sungai.
Informasi dari Ahmad Pudaili, warga Dusun menyebutkan kondisi kedalaman sungai sebelumnya bisa mencapai lebih dari lima meter.
“Dalam, biasanya 5 meter lebih,” ujarnya ketika ditanya mengenai kedalaman sungai dalam kondisi normal, Rabu (2/9).
Namun kondisi terkini sudah jauh berbeda. Menurutnya, pada bagian sungai yang normal, kedalamannya kini hanya sekitar sepinggang orang dewasa.
“Kini paling sepinggang orang dewasa, tapi bagian bekas galian dompeng ado yang lebih,” katanya.
Ia menjelaskan, bagian tengah sungai saat ini juga mengalami penyusutan cukup signifikan.
“Kalo tempat normal nyo sepinggang orang dewasa, itu di bagian tengah sungai,” ungkapnya.
Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata dampak musim kemarau terhadap ketersediaan air di wilayah Bungo.
Secara lebih luas, kondisi Jambi memang tengah menghadapi periode kemarau. BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September, dengan Agustus menjadi periode puncak di wilayah Indonesia secara luas. BMKG juga memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi normal, seiring pengaruh El Niño.
Kemarau panjang bukan hanya berdampak terhadap sungai dan sumber air masyarakat. Kondisi tanah dan vegetasi yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di Provinsi Jambi, kewaspadaan terhadap karhutla saat ini memang menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran selama periode kemarau. Bahkan, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan sebagai salah satu upaya menjaga kelembapan wilayah rawan kebakaran. (antaranews).
Kabut asap pun mulai menjadi persoalan yang perlu diwaspadai. Asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat terbawa angin dan mengganggu jarak pandang serta kualitas udara masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kemarau tidak bisa hanya dilihat dari panasnya cuaca. Menyusutnya debit sungai, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran lahan hingga potensi kabut asap merupakan rangkaian persoalan yang harus diantisipasi bersama.
Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Pemerintah desa, kecamatan, BPBD, TNI, Polri serta seluruh pihak terkait juga diharapkan meningkatkan pemantauan terhadap kawasan yang mulai mengalami kekeringan.
Di sisi lain, masyarakat berharap hujan segera turun dengan intensitas yang cukup untuk mengembalikan debit sungai dan memenuhi kembali sumber-sumber air yang mulai menyusut.
Sebab, bagi masyarakat yang bergantung pada sungai dan sumber air lingkungan sekitar, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi penopang aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Kondisi sungai yang dari kedalaman normal lebih dari lima meter kini disebut tinggal sekitar sepinggang orang dewasa menjadi alarm bahwa kemarau 2026 perlu mendapat perhatian serius.
BRITO.ID akan terus memantau perkembangan kondisi sungai, kekeringan, kabut asap dan potensi karhutla di Kabupaten Bungo dan wilayah Jambi.
(Redaksi)

Ari W