76 Tahun Hidup Sebatang Kara di Jujuhan, Martinus Tuna Wicara Kini Bertahan dari Belas Kasihan Warga
BRITO.ID, BERITA BUNGO — Kisah memilukan datang dari Dusun Baru Balai Panjang, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo. Seorang pria lanjut usia bernama Martinus, 76 tahun, warga asal Irian Jaya yang juga merupakan penyandang tuna wicara, kini menjalani kehidupan dalam kondisi memprihatinkan dan hidup seorang diri.
Di usianya yang sudah lanjut, Martinus tidak lagi mampu bekerja seperti sebelumnya. Untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, bahkan tempat tinggal, dirinya kini hanya mengandalkan kepedulian dan belas kasihan warga sekitar.
Martinus diketahui telah berada di wilayah Dusun Baru Balai Panjang sejak puluhan tahun lalu. Sekitar tahun 1980, ia bekerja sebagai penjaga keamanan di salah satu perusahaan penggilingan batu.
Namun, setelah perusahaan tersebut tidak lagi beraktivitas, Martinus tetap tinggal di kawasan Baru Balai Panjang. Ia juga diketahui pernah memiliki bapak angkat di Pulau Jelmu.
Seiring berjalannya waktu, usia Martinus semakin lanjut. Kondisi fisiknya pun semakin menurun sehingga dirinya tidak lagi memiliki kemampuan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.
Kini, Martinus yang tidak memiliki keluarga dekat di wilayah tersebut harus bertahan hidup dengan bantuan warga. Kondisinya semakin memprihatinkan karena selain sudah berusia 76 tahun, Martinus juga merupakan tuna wicara.
Suyati, salah seorang warga Dusun Baru Balai Panjang, mengatakan warga selama ini berupaya membantu kebutuhan Martinus sebatas kemampuan mereka.
"Kalau makan dan minum, bolehlah kami kasih, Bang. Kalau dia sakit, kami juga kasihan melihatnya. Dia berada di perantauan, tidak punya rumah, hidup sebatang kara dan tuna wicara lagi," ujar Suyati.
Menurut Suyati, masyarakat berharap pemerintah Kabupaten Bungo, khususnya Dinas Sosial, dapat memberikan perhatian dan mencarikan solusi agar Martinus mendapatkan perawatan serta kehidupan yang lebih layak di usia senjanya.
"Kami berharap kepada pemerintah atau Dinas Sosial Kabupaten Bungo, bagaimana caranya agar Martinus ini bisa terurus. Dia sebatang kara dan tidak ada saudara di sini," katanya.
Suyati menceritakan, Martinus sudah tinggal di kawasan tersebut sejak bekerja di perusahaan penggilingan batu sekitar tahun 1980. Setelah perusahaan berhenti beroperasi, Martinus tetap menetap di Baru Balai Panjang dan tidak diketahui lagi apakah masih memiliki keluarga di kampung halamannya.
"Dulu sekitar tahun 1980 dia bekerja di perusahaan penggilingan batu. Setelah perusahaan itu tutup, dia tinggal di Baru Balai Panjang. Kami tidak tahu apakah dia masih bisa pulang ke kampung halamannya di Irian Jaya," tuturnya.
Warga berharap Dinas Sosial Kabupaten Bungo dapat turun langsung melihat kondisi Martinus dan memberikan penanganan sesuai kebutuhannya. Salah satu opsi yang diharapkan warga adalah agar Martinus dapat ditempatkan di lembaga atau panti yang dapat memberikan perawatan dan kebutuhan dasar bagi lanjut usia yang hidup seorang diri.
Di sisi lain, Martinus juga sangat berharap jika masih memiliki keluarga di kampung halaman, ada pihak keluarga yang dapat mengetahui keberadaannya dan menjemputnya untuk kembali ke Irian Jaya.
Kini, di tengah usia yang telah mencapai 76 tahun, Martinus hanya bisa bertahan dengan bantuan warga. Perhatian pemerintah dan kepedulian keluarga menjadi harapan agar masa tua Martinus tidak terus dilalui seorang diri dalam kondisi yang memprihatinkan.
(azh)

Ari W