Kisah Polisi yang Jadi Petugas Pemusalaran Jenazah Covid-19 di Jambi, Mulai dari Batuk Darah hingga Minta Perhatian Pemerintah

Bunyi sirine ambulans pengantar jenazah Covid-19 lebih sering terdengar belakangan ini. Begitupun kabar di masa pandemi ini, banyak orang meninggal akibat terpapar Covid-19.

Kisah Polisi yang Jadi Petugas Pemusalaran Jenazah Covid-19 di Jambi, Mulai dari Batuk Darah hingga Minta Perhatian Pemerintah
Ketua Tim Pemusalaran Jenazah Pasien Covid-19 Kota Jambi, Aipda Harianto (ist)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Bunyi sirine ambulans pengantar jenazah Covid-19 lebih sering terdengar belakangan ini. Begitupun kabar di masa pandemi ini, banyak orang meninggal akibat terpapar Covid-19.

Seiring waktu berjalan, deretan kasus kematian yang meningkat, tak hanya membawa duka untuk keluarga, tetapi juga nestapa untuk yang lainnya. Satu di antaranya adalah petugas pemusalaran jenazah pasien Covid-19.

Ada kisah yang menggambarkan jatuh bangun petugas pemusalaran jenazah pasien Covid-19. Kisah ini datang dari Harianto, anggota Kepolisian Resor Kota Jambi berpangkat Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) dan juga sekaligus Ketua Tim Pemusalaran jenazah Covid-19. 

Harianto dan rekan seprofesinya bertugas mensterilkan, mengkafani, memasukkan ke dalam peti jenazah, membawa ke makam, memakamkan hingga mendoakan jenazah Covid-19. Selain tantangannya berat, faktor keluarga biasanya menjadi kendala. Namun, bagi Harianto, ini adalah bagian dari pengabdian.

Seperti yang dilalui tim pemusalaran jenazah Covid-19 di Kota Jambi. Tim tersebut kerap bertugas di tengah malam hingga sempat terjatuh sakit.

Dari 14 petugas pemusalaran jenazah, satu orang di antaranya pernah terjangkit Covid-19. Bahkan keluarganya juga terpapar.

"Saya sempat batuk darah. Tetapi setelah dilakukan swab antigen, hasilnya negatif. Saya menganggap itu karena kelelahan," kata Harianto, saat menceritakan kisahnya, Senin 20 September 2021.

Aipda Harianto dan Rekan-rekan Saat Bertugas (ist)

Kalimat itu diucapkan Harianto di sela waktu istirahatnya sebagai seorang Ketua Tim Pemusalaran Jenazah Covid-19 Kota Jambi. 

Dia bercerita, selama melakukan kegiatan ada kalanya tim pemusalaran menghadapi minimnya penerangan. Kondisi ini terjadi di TPU Bumi Langgeng, penerangan yang siap digunakan tidak ada di sana. 

Namun dengan keadaan itu tidak menyurutkan niat mereka, dengan terpaksa petugas mengandalkan senter handphonenya dan lampu mobil ambulans guna menerangi lokasi bekerjanya. 

"Namun, ketika hujan dan becek, mobil tidak bisa kebawa (lebih dekat ke makam), sehingga penerangan hanya menggunakan handphone," akunya.

Minimnya penerangan di jalan dan di dalam pemakaman membuat mereka sering tersandung batu ataupun batu nisan. Meskipun memakai sepatu boot setinggi lutut sebagai pelindung mereka, namun sepulang pemakaman ia mendapat luka di kaki.

Malahan sempat mendengar kabar, dalam melaksanakan tugas mereka menemukan kendala yang baru. Alat berat untuk mempermudah proses penutupan lubang makam tidak ada lagi di TPU Pusara Agung.

"Kemudian kalau di TPU Pusara Agung, kalau tidak ada alat berat, terpaksa hanya menggunakan cangkul," ucapnya.

Harianto menyebutkan, sejak tanggal 5 Agustus 2021 rumah sakit rujukan sudah membentuk tim pemusalaran jenazah COVID-19.

"Tapi apabila kita dibutuhkan di rumah sakit manapun dan kapanpun, kita siap," ungkap Harianto. 

Tugas yang penuh resiko itu dijalani Harianto dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepada Tuhan. Namun, disisi lain dirinya berharap setidaknya ada perhatian lebih, seperti dengan diberikan vitamin dan sebagainya.

"Kami harap pimpinan kita, baik itu Pemerintah Kota Jambi maupun Polri, untuk dapat memperhatikan kami," katanya.

Harianto juga berpesan kepada masyarakat agar selalu menjaga kesehatan jangan sampai lengah meninggalkan protokol kesehatan, walaupun angka kasus Covid-19 yang dikabarkan saat ini menurun.

"Memang pengetatan PPKM dan vaksinasi massal membawa dampak positif dan juga kasus Covid-19 menurun, untuk itu masyarakat harus tetap bersabar dan selalu menerapkan protokol kesehatan," pesannya. 

Kontributor: Loadry Apryaldo
Editor: Rhizki Okfiandi