Mantan Wapres dan Menteri Kabinet Hadiri Peluncuran Buku Megawati "The Brave Lady"

Mantan Wapres dan Menteri Kabinet Hadiri Peluncuran Buku Megawati

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Sejumlah menteri kabinet pada pemerintahan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri maupun sejumlah Menteri Kabinet Kerja, hadir pada peluncuran dan bintang buku "The Brave Lady" pada peringatan ulang tahun ke-72 Megawati Soekarnoputri, di Jakarta, Rabu. Hadir pada acara peluncuran buku tersebut adalah, mantan Wakil Presiden yakni, Try Sutrisno, Hamzah Haz, dan Boediono.

Menteri pada Kabinet Gotong Royong, yakni Hasan Wirajuda, Yusril Ihza Mahendra, Malik Fajar. Kemudian, Agum Gumelar, Hatta Rajasa, Purnomo Yusgiantoro, Boediono, dan Rokhmin Dahuri. Mantan Kapolri Da'i Bachtiar, dan Mantan Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom. Hadir juga Menteri Kabinet Kerja antara lain, Darmin Nasution, Susi Pujiastuti, Aman Sulaiman, Eko Sanjoyo, dan Lukman Hakim. Tampak hadir juga mantan Ketua MPR RI Sudarti Danusubroto, serta keluarga Megawati yakni Guntur Soekarnoputra dan Sukmawati Soekarnoputra.

Dari informasi yang disampaikan panitia menjelaskan, Buku "The Brave Lady" berisi tentang kepemimpinan Presiden kelima Megawati Soekarnoputri dalam catatan para Menteri Kabinet Gotong-Royong. Pada kesempatan tersebut, empat Menteri Kabinet Gotong, memberikan testimoni pengalamannya pada kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. Mereka adalah, Menteri Pertambangan dan Energi Purnomo Yusgiantoro, Menteri Hukum dan Perundangan Yusril Ihza Mahendra, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Malik Fajar, serta Menteri Keuangan Boediono.

Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dirinya pernah memberikan julukan kepada Megawati Soekarnoputri sebagai "The Brave Lady" yakni wanita pemberani, dalam sebuah tulisan tahun 2003. "Saya tidak menyangka, ternyata istilah tersebut dipakai sebagai judul buku dan menjadi tema utama buku yang diluncurkan hari ini," katanya.

Purnomo menceritakan, latar belakang dirinya menyebut Megawati sebagai "The Brave Lady" yakni persoalan minyak, di mana Indonesia harus bertemu dengan Amerika Serikat untuk membicarakan harga minyak dunia.

Purnomo mengusulkan kepada Megawati untuk melakukan kunjungan ke Amerika Serikat dan bertemu dengan presiden. Menjelang waktu kunjungan, kata dia, terjadi peristiwa gedung kembar di New York, ditabrak oleh pesawat, yang dikenal dengan peristiwa 11 September. "Namun, Ibu Megawati tetap berangkat ke Amerika," katanya. (red)