Viral! Surat Kepsek Minta Sumbangan Ortu Murid Beli Sepeda Rp6 Juta: Kita Nggak Memaksakan Sekolah 'Siswa'

Foto surat permintaan sumbangan dari kepala sekolah (kepsek) di Pangkalpinang, Bangka Belitung (Babel), kepada orang tua murid untuk membeli sepeda lipat Rp 6 juta viral. Dinas Pendidikan Pangkalpinang buka suara.

Viral! Surat Kepsek Minta Sumbangan Ortu Murid Beli Sepeda Rp6 Juta: Kita Nggak Memaksakan Sekolah 'Siswa'
Ilustrasi surat (Foto: iStock)

BRITO.ID, BERITA VIRAL - Foto surat permintaan sumbangan dari kepala sekolah (kepsek) di Pangkalpinang, Bangka Belitung (Babel), kepada orang tua murid untuk membeli sepeda lipat Rp 6 juta viral. Dinas Pendidikan Pangkalpinang buka suara.

Dilihat, Kamis (7/10/2021), dalam foto surat viral itu terlihat permintaan pembelian sepeda lipat Rp 6 juta dengan alasan peringatan hari jadi Kota Pangkalpinang ke-264 dan mendukung program Wali Kota Pangkalpinang.

"Dalam rangka memperingati hari jadi Kota Pangkalpinang yang ke-264, Walikota mempunyai program 'Menuju Pangkalpinang Sehat' untuk membeli sepeda lipat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang yang disebarkan ke seluruh sekolah dari SD-SM se-Pangkalpinang, harga sepeda tersebut Rp 6.000.000 (enam juta rupiah). Saya selaku Kepala Sekolah mohon bantuan dan dukungan dari Bapak/Ibu wali murid kelas I-VI SD Negeri 12 Pangkalpinang melalui paguyuban kelas masing-masing untuk memberikan sumbangan secara sukarela demi terlaksananya program ini," demikian tertulis dalam surat permintaan sumbangan yang viral itu.

Surat itu juga menyertakan contoh sepeda lipat yang dijual. Tak ada stempel atau tanda tangan yang terlihat dalam surat foto surat yang viral itu.

Penjelasan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Pangkalpinang

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Eddy Supriadi, buka suara. Dia membantah pihaknya memerintahkan pihak sekolah menulis surat tersebut.

"Terkait postingan, itu kan bagi yang nggak paham. Sebetulnya sepeda lipat itu kan sesuai dengan apa yang ada, kita nggak memaksakan sekolah 'siswa'. Tidak ada sama sekali. Mereka bukan memaksakan kepada orang tua, hanya menawarkan," jelas Eddy.

Eddy mengatakan pihaknya menawarkan sepeda lipat karya anak Pangkalpinang ke sekolah-sekolah di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pangkalpinang. Dia mengatakan surat itu bukan berisi pemaksaan.

"Bukan dipaksakan, itu ditawarkan. Kita memang menawarkan produk-produk asli Pangkalpinang ke sekolah-sekolah di bawah Dinas Pendidikan. Siapa tahu ada orang tua murid, ada komite, warga, buruh termasuk kepala sekolah yang mau membeli silakan saja dan tidak bergeming apapun," ucapnya.

"Prinsipnya kita hanya menawarkan sepeda bukan memaksakan. Kita hanya menawarkan sepeda Pangkalpinang kepada sekolah-sekolah di lingkungan kita. Bukan hanya sepeda, produk macam-macam, seperti buku dan lain-lain kita nawarin. Apalagi ini produk Pangkalpinang, desainnya anak-anak Pangkalpinang, Pak Wali Kota, ya sudah kita nawarin, tidak ada keharusan, apalagi ke siswa," lanjutnya.

Dia mengatakan pihaknya tidak menawarkan sepeda itu ke para murid atau orang tua murid. Dia menduga surat yang viral itu merupakan inisiatif pihak sekolah.

"Kita bukan ke siswa nawarinnya, kita ke kepala sekolah. Cuma mungkin kepala sekolah itu lebih jauh lagi, sehingga menawarkan ke paguyuban itu karena itu lingkungan kelas, siapa tahu di lingkungan kelas ada yang mau berpartisipasi bersama-sama membeli sepeda. Intinya nggak ada pemaksaan, kaya bisnis biasa, seperti jual beli biasa aja dan kebetulan itu produk Pangkalpinang," sebutnya.

Dia mempersilakan orang tua murid melapor ke Disdikbud Pangkalpinang jika ada pemaksaan pembelian sepeda tersebut. Dia juga menyebut tak ada stempel atau tanda tangan kepala sekolah pada surat minta sumbangan yang viral itu.

"Siapa yang bilang harus, silakan lapor ke saya jika ada yang memaksakan dan mengharuskan beli," ujarnya.

"Itu postingan kan nggak ada stempel, nggak ada tanda tangan, nggak ada nama, hanya gitu-gitu saja, biasa saja. Bisa saja itu hasil pemikiran kawan-kawan di sekolah langsung di-share, biasa aja. Harusnya bukan untuk konsumsi publik, karena sumbernya belum bisa dipertanggungjawabkan, kita harus klarifikasi dan konfirmasi dulu dengan kepala sekolahnya," sambung Eddy.

Sumber: detikcom

Editor: Ari