Pilkada Sarolangun dan Munculnya Perlawanan Politik

Pilkada Sarolangun dan Munculnya Perlawanan Politik
Arfandi Sarbaini.

Arfandi Sarbaini - Jurnalis/Pengamat Politik 

BRITO.ID, BERITA OPINI — Politik di Kabupaten Sarolangun selalu memiliki dinamika tersendiri. Di balik berbagai kepentingan elite, partai politik, tokoh masyarakat dan kelompok pendukung, terdapat masyarakat yang pada akhirnya menjadi pemegang suara dalam setiap kontestasi.

Pilkada bukan sekadar pertarungan antarfigur.

Pilkada juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan, kritik, kekecewaan, sekaligus keinginan terhadap arah pembangunan daerah.

Karena itu, bukan tidak mungkin pada momentum politik berikutnya muncul apa yang disebut sebagai perlawanan politik dari bawah.

Perlawanan tersebut tidak harus berbentuk demonstrasi atau gerakan terbuka. Bisa saja muncul dalam bentuk perubahan sikap masyarakat ketika berada di bilik suara.

Masyarakat Sarolangun Punya Catatan

Selama perjalanan pemerintahan, masyarakat tentu memiliki catatan masing-masing.

Ada yang menilai pembangunan sudah berjalan. Ada yang masih melihat persoalan infrastruktur, pelayanan publik, lapangan pekerjaan, ekonomi masyarakat, hingga pemerataan pembangunan sebagai pekerjaan yang perlu terus dibenahi.

Perbedaan penilaian tersebut merupakan hal yang wajar dalam demokrasi.

Yang menjadi persoalan adalah ketika suara masyarakat dianggap tidak penting.

Sebab masyarakat tidak hanya hadir ketika musim kampanye tiba. Mereka adalah pihak yang setiap hari merasakan dampak kebijakan pemerintah.

Mereka melewati jalan yang dibangun pemerintah.

Mereka menggunakan fasilitas pelayanan publik.

Mereka berhadapan dengan birokrasi.

Mereka merasakan kondisi ekonomi di daerah.

Dan mereka pula yang nantinya menentukan pilihan politik.

Perlawanan Tidak Selalu Berisik

Dalam politik lokal, sebuah gerakan tidak selalu terlihat sejak awal.

Bisa saja masyarakat tidak banyak bicara.

Tidak memasang atribut.

Tidak ikut dalam perdebatan politik.

Tidak pula menunjukkan secara terbuka kepada siapa mereka memberikan dukungan.

Tetapi mereka mengamati.

Mereka mendengar.

Mereka membandingkan.

Dan mereka memiliki penilaian sendiri.

Inilah yang membuat politik selalu dinamis.

Peta dukungan yang terlihat di permukaan belum tentu sepenuhnya menggambarkan pilihan seluruh masyarakat.

Pada Pilkada Sarolangun 2024, KPU menetapkan empat pasangan calon dan hasil resmi melalui Keputusan Nomor 739 Tahun 2024. Proses rekapitulasi dilakukan melalui rapat pleno terbuka di tingkat kabupaten.

Artinya, pengalaman Pilkada 2024 dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan politik Sarolangun untuk membaca bagaimana masyarakat menentukan pilihan.

Jangan Abaikan Suara yang Berbeda

Dalam setiap pemerintahan, kritik akan selalu ada.

Kritik tidak otomatis berarti kebencian.

Perbedaan pilihan tidak otomatis berarti permusuhan.

Justru kritik dapat menjadi bahan evaluasi apabila ditanggapi secara terbuka.

Politik yang sehat membutuhkan ruang bagi masyarakat untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.

Ketika masyarakat mempertanyakan pembangunan, anggaran, pelayanan publik atau kebijakan pemerintah, jawaban yang terbuka dan berdasarkan data akan lebih penting daripada sekadar membalas kritik dengan kritik.

Sebab masyarakat pada akhirnya membutuhkan bukti, bukan hanya narasi.

Sarolangun dan Politik Perubahan

Jika suatu saat muncul arus politik perubahan di Sarolangun, maka yang menarik untuk diperhatikan bukan hanya siapa tokoh yang berada di depan.

Yang lebih penting adalah apa yang menjadi alasan masyarakat mengikuti arus tersebut.

Apakah karena persoalan pembangunan?

Apakah karena pelayanan publik?

Apakah karena persoalan ekonomi?

Apakah karena figur?

Atau karena masyarakat ingin melihat wajah pemerintahan yang berbeda?

Semua pertanyaan tersebut merupakan bagian dari dinamika politik yang hanya dapat dijawab oleh masyarakat sendiri.

Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap sebuah kelompok sebagai kekuatan besar, tetapi jangan pula meremehkan kelompok yang terlihat kecil.

Politik bisa berubah ketika masyarakat mengubah sikap.

Elite Politik Harus Membaca Arah Angin

Bagi para elite politik Sarolangun, momentum Pilkada seharusnya menjadi kesempatan untuk mendengarkan masyarakat lebih dekat.

Bukan hanya mendatangi masyarakat ketika membutuhkan suara.

Bukan hanya memasang baliho ketika memasuki masa politik.

Tetapi memahami persoalan masyarakat jauh sebelum kontestasi dimulai.

Sebab masyarakat akan memiliki banyak pertimbangan.

Mereka dapat melihat siapa yang hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Mereka dapat membandingkan janji dengan realisasi.

Mereka juga dapat melihat bagaimana seorang pemimpin dan kelompok politiknya menghadapi kritik.

Pada akhirnya, rekam jejak, program dan komunikasi politik akan menjadi bagian dari ruang pertimbangan masyarakat.

Perlawanan Politik Bisa Tumbuh Diam-Diam

Tidak semua perubahan politik diawali dengan suara keras.

Kadang-kadang perubahan justru tumbuh dari percakapan sederhana di warung kopi, di pasar, di rumah, di kantor, di desa, maupun di tengah masyarakat.

Satu orang berbicara kepada dua orang.

Dua orang berbicara kepada sepuluh orang.

Kemudian berkembang menjadi percakapan yang lebih luas.

Di era media sosial, sebuah persoalan lokal juga dapat dengan cepat menjadi perhatian publik.

Karena itu, suara masyarakat tidak lagi hanya terdengar melalui forum resmi.

Ia dapat muncul melalui pemberitaan, media sosial, diskusi masyarakat, hingga percakapan sehari-hari.

Bilik Suara Menjadi Tempat Penentu

Pada akhirnya, semua perdebatan politik akan kembali kepada masyarakat.

Siapa yang didukung, siapa yang tidak didukung, dan apa alasan di balik pilihan tersebut merupakan hak masing-masing pemilih.

Tidak ada yang bisa memastikan sejak sekarang bagaimana arah pilihan masyarakat pada Pilkada berikutnya.

Yang bisa dibaca hanyalah dinamika dan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Karena itu, apabila kemudian muncul istilah "perlawanan politik" di Sarolangun, jangan langsung dimaknai sebagai pertarungan antarindividu.

Bisa saja itu merupakan bentuk ekspresi masyarakat terhadap kondisi yang mereka rasakan.

Dan ekspresi tersebut pada akhirnya akan menemukan tempatnya di ruang demokrasi.

Pilkada bukan hanya tentang siapa yang memiliki kendaraan politik paling kuat. Bukan pula sekadar tentang siapa yang paling banyak baliho atau pendukung yang terlihat.

Pilkada adalah tentang suara masyarakat.

Suara yang mungkin hari ini masih diam.

Suara yang mungkin belum menentukan pilihan.

Suara yang sedang mengamati.

Dan ketika waktunya tiba, masyarakat Sarolangun sendirilah yang akan menentukan ke mana arah politik daerah ini bergerak.