Dari Indonesia untuk Dunia, Diniyyah Al-Azhar Indonesia Hadiri Forum Sekolah Internasional di Phnom Penh
BRITO.ID, BERITA PHNOM PENH, KAMBOJA — Komitmen meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas jejaring internasional terus diperkuat Diniyyah Al-Azhar Indonesia (DAI). Kali ini, DAI mengambil bagian dalam forum sekolah internasional yang berlangsung di Phnom Penh, Kamboja, dengan melibatkan perwakilan dari berbagai negara di dunia.
Kehadiran delegasi Diniyyah Al-Azhar Indonesia dalam forum tersebut menjadi momentum strategis untuk memperluas wawasan, bertukar pengalaman, sekaligus mempelajari perkembangan pendidikan global yang terus bergerak dinamis.
Dalam kegiatan, terlihat sejumlah delegasi berfoto bersama di hadapan layar besar bertuliskan HERRINGTON INTERNATIONAL SCHOOL dengan slogan Education Beyond Borders. Momen ini menggambarkan pertemuan lintas negara yang membuka ruang komunikasi dan pertukaran perspektif di bidang pendidikan.
Direktur Pendidikan Diniyyah Al-Azhar Indonesia, H. Moch. Hafizh El Yusufi, S.Pd.I., MM., mengatakan, keikutsertaan dalam forum internasional tersebut bukan sekadar menghadiri agenda pertemuan, melainkan bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Diniyyah Al-Azhar.
Menurutnya, terdapat sejumlah manfaat strategis yang diharapkan dapat ditindaklanjuti setelah mengikuti forum tersebut.
“Pertama, kesempatan untuk memperbarui wawasan mengenai perkembangan pendidikan global melalui seminar, workshop, dan training. Dengan demikian, Diniyyah Al-Azhar Indonesia diharapkan terus mampu mengoptimalkan potensi serta meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan dunia pendidikan menuntut setiap lembaga untuk terus beradaptasi terhadap perubahan, baik dalam metode pembelajaran, pengelolaan institusi, pengembangan sumber daya manusia, maupun penerapan inovasi pendidikan.
Karena itu, forum internasional menjadi salah satu ruang pembelajaran penting bagi pengelola pendidikan untuk memperoleh perspektif baru dan mengidentifikasi praktik-praktik yang relevan untuk dikembangkan di lembaganya masing-masing.
Memperluas Jejaring Sekolah di Asia Tenggara
Manfaat kedua yang menjadi perhatian Diniyyah Al-Azhar Indonesia adalah terbukanya peluang membangun jaringan antarsekolah, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Melalui pertemuan dengan para pengelola dan praktisi pendidikan dari berbagai negara, diharapkan muncul peluang kerja sama dalam sejumlah bidang, mulai dari pertukaran pengetahuan, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, pengembangan program pembelajaran, hingga kolaborasi antarlembaga.
Hafizh menilai, jejaring internasional memiliki arti penting bagi pengembangan institusi pendidikan. Kolaborasi memungkinkan sekolah saling berbagi pengalaman, mempelajari keunggulan masing-masing, serta menemukan pendekatan yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Namun, manfaat tersebut tidak berhenti pada pertemuan dan komunikasi semata. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan hubungan yang terbangun menjadi program kerja sama yang nyata dan memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan.
Memperkuat Eksistensi di Kancah Global
Poin ketiga adalah penguatan eksistensi Diniyyah Al-Azhar Indonesia di tingkat internasional.
Kehadiran dalam forum yang diikuti peserta dari berbagai negara menjadi kesempatan untuk memperluas pengenalan terhadap institusi pendidikan Indonesia, sekaligus membuka ruang bagi DAI untuk membangun hubungan dengan komunitas pendidikan internasional.
Bagi lembaga pendidikan yang terus berkembang, keterlibatan dalam forum global juga dapat menjadi sarana untuk memperluas perspektif mengenai standar mutu, tata kelola, inovasi pembelajaran, dan kebutuhan kompetensi generasi masa depan.
Upaya ini sejalan dengan cita-cita Diniyyah Al-Azhar Indonesia untuk mengembangkan pendidikan yang memadukan nilai-nilai keislaman, pembentukan karakter, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menjadikan Forum Internasional sebagai Tolok Ukur Evaluasi
Selain memperluas jaringan dan memperkuat eksistensi, Hafizh menyebut forum tersebut sebagai kesempatan untuk mengukur perkembangan Diniyyah Al-Azhar Indonesia dibandingkan dengan dinamika pendidikan global.
Menurutnya, keterbukaan terhadap perkembangan dunia pendidikan diperlukan agar institusi tidak hanya berpuas diri dengan capaian yang telah diraih, tetapi juga terus mengevaluasi dan menyempurnakan indikator keberhasilannya.
“Forum ini menjadi salah satu tolok ukur untuk melihat sejauh mana perkembangan DIAZ hari ini dan bagaimana upaya kita untuk terus memaksimalkan indikator keberhasilan,” demikian penekanan yang disampaikan dalam penjelasannya.
Evaluasi tersebut diharapkan menjadi landasan dalam menentukan langkah pengembangan berikutnya, sehingga peningkatan kualitas tidak hanya menjadi target jangka pendek, tetapi berlangsung secara berkelanjutan.
Langkah Internasionalisasi Pendidikan dari Daerah
Kiprah Diniyyah Al-Azhar Indonesia dalam pengembangan pendidikan berorientasi internasional juga tercermin dalam sejumlah kegiatan yang dipublikasikan melalui situs resmi lembaga tersebut.
Pada Februari 2026, Diniyyah Al-Azhar Jambi menyelenggarakan *International Seminar on Islamic Education dengan tema The Challenges of Building a Competitive Islamic Education. Kegiatan itu menegaskan perhatian lembaga terhadap penguatan mutu dan daya saing pendidikan Islam.
Sementara itu, pada 6 Oktober 2026, situs resmi Diniyyah Al-Azhar memberitakan penguatan kerja sama dengan Cambridge University Press & Assessment Indonesia. Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa hubungan kemitraan di bidang kurikulum pembelajaran bahasa Inggris telah terjalin selama tujuh tahun, dengan rencana pengembangan menuju tahapan persiapan Cambridge International Education School.
Dua agenda tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan Diniyyah Al-Azhar tidak hanya bertumpu pada kegiatan pembelajaran internal, tetapi juga diarahkan pada perluasan wawasan, kemitraan, dan peningkatan standar pendidikan.
Meski demikian, keikutsertaan dalam forum sekolah internasional di Phnom Penh perlu ditindaklanjuti melalui agenda konkret agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh guru, tenaga kependidikan, santri, dan seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Diniyyah Al-Azhar Indonesia.
Dengan demikian, perjalanan ke forum internasional bukan sekadar membawa nama lembaga ke panggung dunia, melainkan juga membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan peluang kolaborasi untuk memperkuat pendidikan di Indonesia.
Dari Phnom Penh, Diniyyah Al-Azhar Indonesia menegaskan pentingnya terus belajar, membangun jejaring, dan beradaptasi dengan perkembangan global, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi pendidikannya.
Dari Indonesia untuk Dunia, menuju pendidikan yang semakin bermutu, berkarakter, dan berdaya saing global.
(Ari Widodo)

Ari W