Cerita Mahasiswa di Jambi Terdampak Covid-19: Kuliah Jarak Terpisah, Kebutuhan Kuota Bertambah

Aldi Darwansyah (20), sudah sepekan lebih memilih belajar di asrama kampus PGSD FKIP Universitas Jambi (Unja). Kampusnya mewajibkan dosen dan mahasiswa belajar dari rumah. Mengikuti anjuran pemerintah akibat Covid-19.

Cerita Mahasiswa di Jambi Terdampak Covid-19: Kuliah Jarak Terpisah, Kebutuhan Kuota Bertambah
Kuliah jarak jauh harus dilakukan mahasiswa di Jambi. (Ahmad Syaiful Bahri/Brito.id)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Aldi Darwansyah (20), sudah sepekan lebih memilih belajar di asrama kampus PGSD FKIP Universitas Jambi (Unja). Kampusnya mewajibkan dosen dan mahasiswa belajar dari rumah. Mengikuti anjuran pemerintah akibat Covid-19.

Aldi lebih memilih untuk tetap tinggal di asrama kampus, ketimbang pulang kampung. Ia bersama mahasiswa lainnya tetap patuh mengikuti kegiatan pembelajaran daring, atau dalam jaringan bersama dosen-dosennya.

Baca Juga: Dirawat di RS Bungo, Ini Riwayat Kontak Dua Pasien Baru Positif Corona di Jambi

Aldi juga harus cepat beradaptasi dengan pembalajaran yang berbasis teknologi. Terutama ketika akan menggunakan aplikasi pembelajaran jarak jauh yang ada di playstore.

"Pembelajaran online sangat menarik dan mampu membuat antusiasme mahasiswa meningkat untuk belajar. Perkuliahan online merupakan hal yang sangat baru bagi saya pribadi. Kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat luar biasa," ujar Aldi, melalui komunikasi WA, Selasa lalu (07/4/2020).

Mahasiswa lain mengaku lebih fleksibel kegiatan pembelajaran jarak jauh ini. "Mau dilakukan malam, siang, sore pun bisa," kata Arif Rusdiasyah, mahasiswa lainnya.

Baca Juga: Update Corona di Jambi Hari Ini 11 April: Empat Orang Dinyatakan Positif

Untuk pembelajaran jarak jauh tersebut, dosen Aldi dan Arif memilih menggunakan aplikasi Zoom. Alasannya lebih fleksibel, mudah diakses dimana saja jika sinyal memadai. Mampu menghemat banyak waktu, menarik sehingga minat untuk mengikuti perkuliahan tinggi.

Proses perkuliahan online menggunakan aplikaso Zoom. 

Awalnya, Arif mengaku sedikit bingung cara kerja kuliah jarak jauh dengan menggunakan aplikasi. Sebab biasanya dilakukan dengan tatap muka. Ketemu langsung dengan dosen. "Ini masih harus banyak belajar, di awal awal saja sih bingungnya," ujarnya lagi.

Menurut Hendra Budiono, dosen PGSD FKIP Universitas Jambi yang juga fasilitator dosen Program PINTAR Tanoto Foundation, mengaku memilih aplikasi Zoom sebagai media pembelajaran jarak jauh adalah mahasiswa yang ikut bisa banyak. "Bisa menampung sampai 100 mahasiswa," katanya.

Baca Juga: Jubir Covid-19 Benarkan 2 Pasien Positif Corona Baru Berasal dari Bungo

Sementara itu Try Susanti, dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi juga memilih aplikasi Zoom untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Menurutnya menggunakan Zoom nyaman. Asalkan dipersiapkan dengan baik.

"Ya disampaikan jauh-jauh (hari) ke semua mahasiswa melalui WhatsApp grup kita akan menggunakan aplikasi Zoom. Jadi mahasiswa telah mengunduh dan mempersiapkan dengan baik," kata Anti panggilan akrabnya, yang juga fasilitator dosen Tanoto Foundation.

Anti yang mengampu mata kuliah Genetika bagi mahasiswa semester VI ini mengaku tidak menemui kendala selama pembelajaran jarak jauh dengan mahasiswanya.

Seperti yang disampaikan Halimatus Sadiyah. Kesan yang ia dapatkan selama perkuliahan daring menyenangkan. Karena menggunakan metode sains. Sehingga menjadikan mahasiswa lebih aktif dan terampil dalam proses perkuliahan.

"Tentu saja terdapat perbedaan antara kuliah langsung dengan daring. Kuliah langsung jauh lebih terkondisikan situasinya. Sebab berada di ruangan yang sama. Namun kuliah daring saya rasa juga cukup efektif untuk melakukan proses perkuliahan mengingat situasi yang dihadapi saat ini," tukasnya.

Ia mengaku menggunakan aplikasi Zoom itu cukup efektif karena bisa bertatap muka secara langsung. "Kan bisa lihat langsung ya. Suara dan wajah kita dengan teman dan dosen," ujarnya.

Dosen sedang memberikan mata kuliah secara online

Lokasi yang tenang dan sinyal yang bagus

Agar mahasiswa tetap lancar mengikuti pembelajaran, Hendra menyarankan untuk mencari lokasi yang tidak ramai. Bisa di kamar, yang penting tidak mengganggu kegiatan pembelajaran jarak jauh. "Dengan teknologi bisa mendekatkan yang jauh," ujarnya.

Kendala lainnya adalah tentu saja di tempat mahasiswa berada tidak semuanya memiliki sinyal yang bagus. Hendra menyarankan agar mahasiswa tersebut mencari provider jaringan seluler yang memiliki sinyal kuat selama pembelajaran jarak jauh berlangsung.

"Kita tidak tahu sampai kapan pembelajaran jarak jauh ini berlangsung. Jadi mahasiswa saya yang tidak memiliki sinyal bagus, untuk sementara waktu mencari provider jaringan seluler yang memiliki sinyal kuat agar semuanya berjalan lancar," tambahnya. 

Baca Juga: Gunung Kerinci & Tiga Gunung Api Lainnya Disebut Meletus Serentak, Begini Kata BMKG

Bagi mahasiswa tempat yang kondusif selama pembelajaran jarak jauh akan membuat pembelajaran lebih fokus. "Lebih fokus saja sih. Kalau seandainya tempatnya tenang, apalagi ditunjang dengan koneksi internet yang stabil," ujar Aldi lagi.

Ditanya kekurangan pembelajaran jarak jauh, baik Aldi maupun Arif sepakat harus membutuhkan kuota agar pembelajaran tetap terjaga dengan baik. "Kuota ya, yang paling banyak menguras," ujar Arif.

Materi perkuliahan secara online. (Foto-foto Ahmad Syaiful Bahri)

Sedangkan menurut Reni Ellisa Lestari lebih bagus kuliah tatap muka dari pada kuliah online. "Membuat saya kurang fokus terhadap perkuliahan," tukasnya.

Agar sinyal tetap stabil, Reni sendiri mempersiapkan kuota untuk 2 kartu. Agar jika terjadi mati lampu karena sinyal hilang, maka kartu satunya bisa back up kartu yang ada sinyal walaupun dalam keadaan mati lampu. "Persiapan menjadi sangat penting di sini, agar tidak mati waktu pembelajaran jarak jauh," ujarnya.

Penulis: Ahmad Syaiful Bahri

Editor: Yoga Julestama