Antara Janji, Kerja, dan Harapan Rakyat
Catatan Refleksi Akhir Tahun Oleh Agus Salim,S.Ag, MH (Sekretaris NU Bungo)
BRITO.ID, BERITA OPINI - Akhir tahun selalu menjadi ruang hening untuk bercermin. Bagi pemerintah daerah, ini bukan sekadar penutup kalender, melainkan momentum menimbang kembali, sejauh mana kekuasaan telah digunakan untuk melayani, bukan sekadar memerintah.
Sepanjang tahun ini, pemerintah daerah patut diapresiasi atas kerja-kerja yang terlihat pembangunan infrastruktur, pelayanan administrasi yang mulai terdigitalisasi, serta upaya menjaga stabilitas daerah. Namun refleksi yang jujur menuntut kita untuk tidak berhenti pada capaian, melainkan berani menyingkap yang belum tersentuh.
Masih ada jalan yang dibangun, tetapi tak kunjung menghubungkan kesejahteraan. Masih ada laporan kinerja yang rapi, tetapi suara warga kecil terdengar samar. Masih ada program yang berjalan, namun tak sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Di sinilah kritik menemukan tempatnya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyadarkan.
Pemerintah daerah sering kali terjebak pada rutinitas administratif dan target serapan anggaran, sementara esensi pelayanan publik kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari rakyat perlahan memudar. Ketika keluhan warga tentang pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan harga kebutuhan pokok tidak direspons cepat, kepercayaan pun terkikis pelan-pelan.
Refleksi akhir tahun seharusnya mengingatkan bahwa jabatan bukan sekadar amanah konstitusional, melainkan amanah moral. Pemerintah daerah perlu lebih membuka ruang partisipasi publik, bukan hanya saat musrenbang, tetapi juga dalam proses pengambilan keputusan. Transparansi bukan cukup dengan laporan, melainkan dengan keberanian menjelaskan dan mendengar.
Ke depan, solusi tidak selalu membutuhkan anggaran besar, tetapi kemauan untuk berpihak. Kebijakan yang sederhana namun tepat sasaran sering kali lebih bermakna daripada program besar yang jauh dari realitas. Pemerintah daerah perlu lebih sering turun, melihat, dan merasakan karena empati adalah fondasi kebijakan yang adil.
Akhirnya, refleksi ini adalah undangan untuk berbenah. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, hanya kesungguhan. Tidak meminta janji baru, hanya komitmen yang ditepati. Semoga tahun yang akan datang menjadi tahun di mana pemerintah daerah lebih dekat dengan rakyatnya, lebih peka terhadap jerit sunyi, dan lebih berani menempatkan kepentingan publik di atas segalanya.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pemerintah daerah bukan diukur dari seberapa banyak yang dibangun, tetapi seberapa banyak kehidupan yang benar-benar berubah. (*)

Ari W