Jenazah Almarhum Bujang Nasril Tertahan Karena Biaya Pengobatan, Gubernur Al Haris Langsung Menuju RS & Menyelesaikan Pembiayaan

Pemain bola legendaris Jambi Bujang Nasril tutup usia pada Selasa (27/7/21) malam sekitar pukul 20.10 WIB malam tadi. Almarhum meninggal di rumah sakit dr Bratanata Jambi.  Brito.id mendapat kabar bahwa jenazah almarhum tak bisa dibawa pulang, lantaran harus membayar kekurangan biaya rumah sakit. 

Jenazah Almarhum Bujang Nasril Tertahan Karena Biaya Pengobatan, Gubernur Al Haris Langsung Menuju RS & Menyelesaikan Pembiayaan
Gubernur Jambi Alharis mendoakan almarhum Bujang Nasril. (Brito.id)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Pemain bola legendaris Jambi Bujang Nasril tutup usia pada Selasa (27/7/21) malam sekitar pukul 20.10 WIB malam tadi. Almarhum meninggal di rumah sakit dr Bratanata Jambi. 

Brito.id mendapat kabar bahwa jenazah almarhum tak bisa dibawa pulang, lantaran harus membayar kekurangan biaya rumah sakit. 

Lalu brito.id menyampaikan informasi tersebut ke Gubernur Jambi, Al Haris sekitar pukul 21.30 WIB. Mendapat info tersebut, Gubernur Al Haris menyempatkan diri datang ke RS dr Bratanata Jambi.

Gubernur Jambi Alharis saat menyelesaikan pembayaran administrasi jenazah Bujang Nasril. (Brito.id)

Gubernur Al Haris tiba sekitar pukul 22.45 WIB. Dia langsung menuju ruang ICU untuk melihat jenazah dan langsung menyematkan doa.

Gubernur mendo'akan almarhum dilanjutkan menyampaikan ucapan duka dan memberikan support kepada istri dan anak almarhum. 

“Insya Allah Husnul Khotimah. Yang sabar yo Yuk,” kata Gubernur Al Haris kepada istri almarhum.

Gubernur Al Haris lalu meminta Roby, ajudannya untuk menyelesaikan pembayaran  biaya rumah sakit agar jenazah dibawa oleh keluarga. 

Untuk diketahui, Bujang Nasril lahir di Jambi pada 7 Maret 1959 yang lalu. Beliau memiliki seorang istri bernama Henni Sarah Yusuf dan 2 orang anak yakni Dea Fadilla dan
Fauzul Mubinu. 

Awal karier almarhum bermain PS POP Jambi pada tahun 1974. Selanjutnya beliau berkiprah di PS Aries Jambi (1977), Persijam Jambi (1974-1979),
Jaka Utama Lampung (1979-1981),
Yanita Utama Bogor (1983),
Kramayudha Tiga Berlian (1984-1987)
Tim nasional Indonesia (1981-1982).

Setelah hampir 20 tahun Bujang berkiprah di lapangan hijau, baik di klub maupun tim nasional, ia pun gantung sepatu. Pilihannya bulat, kembali ke tanah kelahirannya, Jambi, untuk menjadi pelatih. Beliau kembali ke Jambi untuk membangun Jambi lewat sepak bola. 

Penulis: Romi R