Meteorit Timpa Rumah Warga Tapteng Josua Harganya Selangit, Begini Kata Lapan

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjelaskan soal perlintasan benda antariksa yang masuk dalam pantauannya. Disebutkan, Lapan kesulitan memantau perlintasan meteorit karena tidak bisa diperkirakan.

Meteorit Timpa Rumah Warga Tapteng Josua Harganya Selangit, Begini Kata Lapan
Josua yang memegang Meteor (ist)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjelaskan soal perlintasan benda antariksa yang masuk dalam pantauannya. Disebutkan, Lapan kesulitan memantau perlintasan meteorit karena tidak bisa diperkirakan.

"Meteorit tidak dipantau oleh LAPAN, karena lintasannya tidak dapat diprakirakan. Berbeda dengan meteorit, sampah antariksa dipantau oleh LAPAN karena lintasannya dapat diprakirakan," ujar Lapan Koordinator Bidang Kehumasan, Jasyanto, dalam keterangannya, Kamis (19/11/2020).

Jasyanto menjelaskan benda jatuh antariksa merupakan benda dari luar angkasa yang memasuki atmosfer bumi hingga ketinggian kurang dari 120 km. Dijelaskan, benda-benda di luar bumi itu ada yang habis terbakar atmosfer, ada juga yang sampai ke bumi.

Dipaparkan, benda jatuh dari antariksa awalnya hanya benda-benda alami seperti meteorit. Tapi sejak adanya peluncuran roket, benda jatuh itu bisa beupa benda buatan.

"Benda buatan yang jatuh ke bumi adalah bagian dari sampah antariksa karena tidak memiliki fungsi lagi. Meteorit adalah batuan antariksa yang berasal dari batuan di tata surya terdiri dari pecahan asteorid, komet, atau batuan tata surya lainnya," tuturnya.

Meteorit, kata Jasyanto, bisa jatuh ke bumi. Dan, secara umum meteorit ini bisa dimiliki siapa saja yang menemukan.

"Kecuali ada nilai ilmiah atau terkait keamanan dan keselamatan yang perlu ditindaklanjuti oleh LAPAN," jelas dia.

Jasyanto kemudian menjelaskan soal meteorit yang jatuh di Tapanuli Tengah, Sumut. Dia mengatakan, meteorit yang jatuh adalah meteorit yang umum dan tidak berbahaya.

Dari segi ukuran, lanjut dia, meteorit yang menimpa rumah Josua di Tapteng, bukan sesuatu hal yang istimewa. Maka dari itu, Lapan tidak menindaklanjuti perihal temuan meteorit tersebut.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, kata Jasyanto, sampah antariksa berbahaya jika jatuh ke bumi.

"Meteorit umumnya tidak berbahaya, kecuali dampak tumbukannya ketika jatuh ke Bumi tetapi sangat kecil kemungkinan mengenai manusia. Sampah antariksa memiliki potensi bahaya dari kandungannya, seperti sisa bahan bakar yang beracun atau muatan nuklir," kata dia.

Josua Berhak atas Meteorit yang Timpa Rumahnya

Salah satu peristiwa meteorit jatuh ke Bumi terjadi pada awal Agustus lalu. Sebongkah meteorit menimpa atap rumah warga Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut), Josua Hutagalung.

Jasyanto mengatakan Lapan tidak menindaklanjuti meteorit tersebut karena tidak berbahaya alias berbeda dengan sampah antariksa. Dia menyatakan warga bisa memiliki meteorit.

"Sesuai dengan pasal 59 UU No 21 tentang Keantariksaan, Lapan wajib mengidentifikasi benda jatuh antariksa. Hal tersebut sudah dilakukan untuk kasus di Tapanuli, dengan menyatakan benar itu benda jatuh antariksa tersebut masuk dalam kategori benda alamiah atau meteorit. Lapan tidak menindaklanjuti lebih dalam karena benda tersebut tidak berbahaya dan tidak ada kepentingan ilmiah," kata Jasyanto.

"Meteorit tersebut dapat dimiliki oleh penemunya," tambahnya.

Diketahui, Josua telah menjual meteorit tersebut ke seorang warga negara asing (WNA) seharga Rp 200 juta. Seng atap rumahnya yang bolong pun ikut dibeli WNA tersebut dan dihargai Rp 14 juta.

"Batunya kemarin saya jual Rp 200 juta batunya. Itu beratnya 1.800 gram. Itu saya jual ke orang Bali, atas nama Jared, bule tuh. Terus dia juga beli atap seng yang bolong Rp 14 juta. Jadi total Rp 214 juta," kata Josua saat dihubungi, Rabu (18/11).

Namun, diduga benda langit tersebut bisa punya harga jual lebih tinggi. Media Inggris menyebutnya sebagai orang kaya baru karena batu meteorit itu dijual seharga 1,4 juta pound sterling atau sekitar Rp 26 miliar.

Sumber: detikcom
Editor: Ari