Satu Korban Meninggal Akibat DBD, Satu Kecamatan Ini Ditetapkan KLB

Satu Korban Meninggal Akibat DBD, Satu Kecamatan Ini Ditetapkan KLB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Muarojambi Apippudin. (Romi/brito.id)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Memasuki musim penghujan, Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai menyerang Muarojambi khususnya wilayah Kecamatan Kumpeh. Puluhan warga di beberapa desa di Kumpeh terserang penyakit yang disebarkan nyamuk Aedes Aegepty ini.

"Dari data kita ada 73 warga di Kecamatan Kumpeh yang terserang DBD," ungkap Kepala Bidang  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Muarojambi Apippudin, Rabu (3/12/19).

Diterangkan Apip, warga di Kumpeh banyak terserang demam dalam tiga bulan terakhir. Pihaknya pun melakukan pendeteksian yang hasilnya terdapat total 73 warga positif DBD.

"Satu meninggal dunia yakni warga Pulau Mentaro. Meninggalnya 19 November lalu di rumah sakit. Meninggalnya lantaran telat terdeteksi dan daya tahan tubuhnya juga lemah," kata Apip.

Lantaran adanya korban meninggal dunia, Kecamatan Kumpeh pun ditetapkan dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. Pihaknya pun tindakan fogging atau pengasapan total di sana untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti dewasa di sana. Setidaknya ada lima desa yang dilakukan fogging total. Empat desa di Kecamatan Kumpeh dan satu di Kecamatan Kumpeh Ulu.

"Kita fogging total di desa Pulaumentaro, Mekar Sari, Betung dan desa Pulauraman Kecamatan Kumpeh dan desa Pemunduran Kecamatan Kumpeh Ulu. Selain itu kita juga memberikan Bio Larvasida, cairan pembasmi jentik nyamuk kepada warga di sana," urainya.

Terhadap kejadian ini, pihaknya mengajak semua masyarakat di Muarojambi, khususnya di Kecamatan Kumpeh untuk bersama-sama melakukan pembasmian sarang nyamuk (PSN). Dengan PSN, jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti penyebar demam berdarah bisa dibasmi.

"PSN ini untuk membunuh jentik-jentik nyamuk dan tidak berkembang biak. Genangan-genangan air, tempat penampungan air harus rajin dikuras agar nyamuk tak berkembang biak," pungkasnya.

Penulis: Romi Raden
Editor: Ari