WHO Segera Evaluasi Penanganan Pandemi COVID-19, Beri Janji Transparan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mengevaluasi secara independen tentang penanganan pandemi virus corona dan berjanji akan transparan dan akuntabel.

WHO Segera Evaluasi Penanganan Pandemi COVID-19, Beri Janji Transparan
Istimewa

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mengevaluasi secara independen tentang penanganan pandemi virus corona dan berjanji akan transparan dan akuntabel.

"Kita semua memiliki pelajaran untuk belajar dari pandemi. Setiap negara dan setiap organisasi harus memeriksa responsnya dan belajar dari pengalamannya. WHO berkomitmen terhadap transparansi, akuntabilitas, dan perbaikan berkelanjutan," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pertemuan majelis WHO seperti dilansir Reuters, Senin (18/5).

Tedros mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi "dukungan kuat mereka untuk WHO pada saat kritis ini". Ia menegaskan evaluasi harus mencakup tanggung jawab semua pihak dengan itikad baik. 

"Risiko tetap tinggi dan kami memiliki jalan panjang," kata Tedros.  

Menurut Tedros, tes serologi atau reaksi antigen-antibodi awal di beberapa negara menunjukkan sebanyak 20 persen populasi telah tertular virus corona dan di sebagian besar negara kurang dari 10 persen.

Sebelumnya, WHO dikritik oleh Presiden Amerika Serikat (AS) karena dianggap mencoba menutupi kemunculan virus corona di Wuhan, China, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia. WHO dianggap tak serius menangani pandemi ini. 

Ujung dari kritik ini, Trump menghentikan pendanaan AS kepada WHO. Namun WHO menyatakan telah menyalakan alarm mengenai keberadaan virus corona sejak awal dan membantah menutupinya dari AS. 


Terbaru, WHO mengatakan, virus corona akan ada untuk waktu yang lama dan kemungkinan tidak akan pernah hilang. WHO pun meminta seluruh masyarakat harus belajar hidup dengannya. 

WHO menyatakan hal tersebut sebagai peringatan kepada negara-negara yang memutuskan melonggarkan pembatasan atau lockdown karena adanya penurunan kasus.

Sumber: Reuters
Editor: Ari