Anak Sungai Dibendung, Puluhan Hektare Kebun Warga Terancam Mati

Anak Sungai Dibendung, Puluhan Hektare Kebun Warga Terancam Mati
Salah satu pemilik kebun yang lahannya terendam banjir (Heri Anto/BRITO.ID)

BRITO.ID, BERITA TANJAB BARAT- Ditutupnya anak sungai, dampak dari Proyek pekerjaan turap dan pintu Air di kawasan kantor Bupati Tanjab Barat, membuat ratusan hektare kebun Kelapa dalam dan kebun pinang milik warga Rt 13 kelurahan Sriwijaya kecamatan Tungkal Ilir terancam mati akibat terendam banjir.

Parahnya lagi, banjir terjadi sejak tiga bulan belakangan akibat proyek yang menelan anggaran Rp 14,4 milnyar. Kondisi ini membuat warga gerah dan menuntut ganti rugi ke pemerintah.

Salah satu Petani, Selamet mengaku, akibat ditutupnya aliran sungai, genangan air sungai tak kunjung surut, bahkan banjir akibat merendam kebun dan menyusahkan petani.

"Sudah 3 bulan pak, kami takut kebun kami mati, ini saja sudah banyak bibit pinang mati." Keluhnya Rabu (20/11).

Harmadi, salah satu warga sekitar juga mengaku, akibat bendungan, debit air sungai tidak mengalami perubahan, bahkan mulai menimbulkan bau tidak sedap.

"Apa lagi kalau hari hujan, air makin tinggi dan merendam kebun dengan waktu lama." Imbuhnya.

Sementara itu, Rahli, pemilik kebun kelapa dan pinang dipinggiran sungai yang di bendung mengaku, sangat menyayangkan sikap pemkab yang tak memandang petani kecil.

Penutupan anak sungai juga dinilai sepihak tanpa ada sosialisasi dengan masyarakat dibantaran sungai.

"Demi kepentingan segelintir oknum, kenapa harus mengorbankan kami masyarakat kecil. Jika ini tidak ada solusi atau membongkar bendungan, maka kami akan tuntut ganti rugi." Jelasnya.

Menangapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Tanjab Barat Safril Simamora merasa gerah dan terkejut dengan kondisi ini. Kata dia, ia akan mempelajari masalah ini, dan akan memanggil pihak pihak terkait seperti Dinas PU Kontraktor dan Masyarakat.

"Kita akan panggil pihak pihak terkait, dalam waktu dekat." Jelasnya.

Ia juga meminta, pemerintah daerah segera mengambil solusi dan membuka bendungan.

"secepatnya carikan solusi, saya minta dalam seminggu bendungan dibuka, jangan sampai berlarut-larut. saya akan kaji dan saya pelajari betul kenapa sungai ini dibendung." Tukasnya.

Sayangnya, tak satupun pihak Dinas Pekerjaan Umum dapat dimintai tanggapan terkait masalah ini. 

Penulis: Heri Anto

Editor: Rhizki Okfiandi