Anyer Kini Mati Suri, Saat Pandemi Covid-19

Wisata Anyer sempat mati suri karena terjangan tsunami. Baru mulai bangkit, wisata Anyer harus berjuang lagi melawan pandemi Covid-19. Masih lekat dalam ingatan saat bencana tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 meluluhlantakkan destinasi wisata Anyer. Kala itu, runtuhnya sisi Gunung Anak Krakatau menimbulkan munculnya gelombang tinggi.

Anyer Kini Mati Suri, Saat Pandemi Covid-19
Sepi (ist)

BRITO.ID, BERITA SERANG - Wisata Anyer sempat mati suri karena terjangan tsunami. Baru mulai bangkit, wisata Anyer harus berjuang lagi melawan pandemi Covid-19.

Masih lekat dalam ingatan saat bencana tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 meluluhlantakkan destinasi wisata Anyer. Kala itu, runtuhnya sisi Gunung Anak Krakatau menimbulkan munculnya gelombang tinggi.

Salah satu hotel yang terkena dampak tsunami saat itu adalah Aston Anyer. General Manager Aston Anyer Doddy Fathurahman menceritakan bagaimana gelombang menerjang hotel tersebut.

"Air kira-kira setinggi 3 meter. Tamu-tamu langsung dievakuasi naik ke lantai 6," kata dia.

Beruntung saat kejadian, tak ada yang menjadi korban jiwa. Bangunan juga tak sampai rusak. Hanya saja berkaca dari musibah tersebut Aston Anyer dan beberapa hotel lainnya kemudian membangun tembok yang lebih tinggi hingga pemecah gelombang.

Dari pantauan, bangunan-bangunan lain yang rusak akibat tsunami Anyer memang sudah mulai dibangun kembali. Bekas-bekas terjangan tsunami tak begitu menonjol. Yang kini mengusik para pelaku wisata di Anyer justru pandemi Covid-19 yang tak jua usai.

Banyak hotel yang buka namun tak mendapatkan tamu. Hal itu terlihat dari parkiran hotel-hotel yang sepi. Apalagi di malam hari, beberapa hotel terlihat gelap.

Setali tiga uang dengan hotel, tempat wisata seperti pantai juga kehilangan pengunjung. Kios-kios pedagang tutup. Hanya ada beberapa yang buka berharap ada wisatawan yang membeli dagangannya.

Jalanan di sini juga begitu sepi. Kondisinya amat berbeda dengan wisata Anyer yang dulu dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit, bahkan kepadatan kendaraan sering menimbulkan kemacetan panjang.

Sumber detikcom
Editor: Ari