Busyro Sebut Isu 'Taliban di KPK' Terindikasi dari Istana

Busyro Sebut Isu 'Taliban di KPK' Terindikasi dari Istana
Busyro Muqoddas. (Istimewa)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas menepis soal isu radikalisme, khususnya 'isu taliban' di internal KPK. Dia menduga isu taliban tersebut dipolitisasi oleh Istana. 

Busyro mulanya menjelaskan bahwa taliban yang selama ini ada dalam tubuh KPK memiliki konteks yang berbeda. Dia mengatakan taliban yang dimaksud dalam KPK adalah untuk menggambarkan penyidik-peyidik KPK yang militan. 

"Waktu saya masuk itu sudah ada taliban-taliban. 'Lha kok taliban to'. 'Pak ini tidak ada konotasi agama'. 'Lho kenapa?' Ini ikon taliban itu menggambarkan militansi orang Afganistan, dan penyidik-penyidik KPK itu militan-militan. Ini ada Kristian kristen, ini ada Kadek hindu, ada Novel cs Islam. Jadi mereka biasa-biasa saja," kata Busyro kepada wartawan, Minggu (15/9/2019).

"Jadi taliban itu tidak ada konteksnya radikal. Hanya itu dipolitisasi. Dan politisasi itu ada indikasi dari istana," imbuh dia. 

Dia pun menyayangkan isu radikalisme kemudian digoreng sedemikian rupa untuk melemahkan KPK. Busyro menilai isu radikalisme yang bahkan masuk dalam materi psikotes pimpinan KPK kekanak-kanakan. 

"Kemudian dikembangkan oleh pansel kan. Mengapa baru kali ini pansel itu nggak punya kerjaan seolah-olah nggak punya konsep. Ada tiga guru besar, (tapi) materi psikotesnya pakai isu-isu radikalisme, tapi pertanyaan-pertanyaannya itu childish banget, misalnya kalau ada bendera Merah Putih menghormati itu bagaimana. SMP itu," tutur Busyro.

Di sisi lain, Busyro juga dengan tegas menolak revisi UU KPK. Busyro menilai revisi tersebut sebagai upaya untuk melemahkan lembaga antirasuah itu. 

"Lebih dari pada pelemahan. Supaya bangsa Indonesia itu akrab dengan yang lugas-lugas tidak samar-samar seakan-akan santun. Saya mengatakan pembunuhan. Pembunuhan. Lugas kan. Situasinya cocok saya untuk menggunakan kata itu daripada pelemahan. Sebab kalau isinya pelemahan presiden itu menolak pelemahan dengan menolak pasal-pasal yang diajukan oleh DPR itu tapi tiga poin itu setelah kita baca, diteliti KPK sendiri, diteliti teman-teman itu sama saja masih mengandung unsur yang akibatnya pembunuhan KPK," papar Busyro seperti dilansir detikcom. (RED)