Dengarkan Nasehat Aa Gym, Hotman Paris: Ternyata ada Waktunya Kita Harus Berpikir Enough is Enough

Curahan dari hati ke hati antara pengacara kondang Hotman Paris dan ulama Aa Gym menguak beberapa fakta menarik.

Dengarkan Nasehat Aa Gym, Hotman Paris: Ternyata ada Waktunya Kita Harus Berpikir Enough is Enough
Hotman Paris (ist)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Curahan dari hati ke hati antara pengacara kondang Hotman Paris dan ulama Aa Gym menguak beberapa fakta menarik.


Ini terkait keinginan Hotman untuk segera berhenti dari pekerjaannya sebagai pengacara. Dia juga sudah mulai merasa kemewahan dan harta berlimpah yang dicarinya selama ini, tidak begitu ada artinya. Sebab, kelak ketika meninggal pun sebagai orang Batak dan penganut kristiani, dia hanya akan mengenakan satu setelan jas dan sepatu.

Dia merasakan itu semua saat banyak menghabiskan waktu di rumah selama pandemi corona. 

“Sekarang dengan adanya corona ini saya makin menyadari, memahami, bahwa kita hidup mencari kebahagiaan. (Saya ingin) setengah pensiun atau pensiun total menikmati hari tua. Karena apa yang kita dapatkan ternyata semua (akan) berakhir juga,” ujarnya.

Pada usia 60 tahun ini, Hotman merasa sudah mulai mengurangi dosanya sedikit demi sedikit. Namun, di satu sisi sebagai pengacara yang masih aktif terkadang susah membedakan antara kemenangan dengan keadilan. 

“Bagi saya pribadi harus berpekara kalah atau menang, itu yang susah bagi profesi pengacara. Kita harus akui bisnis pengacara, kadang susah tercampur antara kemenangan dan keadlan. Sebagai pengacara normal yang penting klien menang. Sehingga kita tidak bahagia, subuh-subuh mikir kalau klien kalah bisa stres dua bulan,” ungkapnya.

Aa Gym pun menyarankan Hotman untuk perlahan benar-benar pensiun. Apalagi, Aa Gym mengetahui bahwa sang pengacara adalah sosok yang baik.

“Abang punya hati baik. Dunia sudah dikasih, pensiun, sudah 60 tahun. Kalau saran saya, sudah usia ini. Kalau Nabi Muhammad 63 tahun meninggal. Sahabatnya juga 63 tahun. Jadi makanya saya umur 63 tahun harus siap. Tiap hari mikir yang baik, karena Allah tidak menyimpan kebaikan kecuali kebaikan, kan sudah hidup 60 tahun. Harus jujur mau hidup bahagia,” ungkap pemilik Pondok Pesantren Daarut Tauhid ini.

Hotman menjelaskan dulu dia sempat bermimpi ingin hidup 124 tahun. Namun, seiring waktu ambisinya mulai tak lagi seperti dulu, khususnya selama corona ini. Dia memastikan ingin mengunjungi beberapa kota di Indonesia untuk menikmati hidup. 

“Karena kalau menang perkara banyak duitnya enggak nampak, langsung masuk rekening. Sama saja (saya tetap) makan mie ayam, sama bubur, enggak ada bedanya sama supir taksi. Saya berperang mati-matian duit masuk ke rekening. Kalau saya matipun belum sempat pamitan sama duitnya,” paparnya sambil tertawa.

Saat ini, hanya ada satu cita-cita Hotman yang belum terwujud. “Tiga anak saya lulus fakultas hukum dari Inggris, saya masih harus membimbing mereka, harus jadi pengacara yang andal. Cita-cita saya dalam tiga tahun ini agar bisa membimbing mereka agar bisa menguasai praktek,” jelasnya.

“Ternyata ada waktunya kita harus berpikir enough is enough (cukup adalah cukup). Sudah waktunya berbuat selain mengejar harta, popularitas, Kita harus mengerjakan hobi yang cocok dengan kita,” timpalnya.

Aa Gym menimpali dirinya dan Hotman hanya berbeda dua tahun. Aa kini 58 tahun. “Sudah lebih tiga per empat (hidup di dunia). Tinggal hidup bermanfaat. Kalau sudah tua masih centil, pontang panting untuk dunia, dimana kira merasa bahagia yang asli? Kita enggak bisa bohong. Ingat mati itu bagus, harus banyak ingat kematian,” lanjutnya.

Hotman mengamini pernyataan Aa. “Saya sudah merasakan, terutama di puncak karir sukses, saat corona ini pada akhirnya kita harus menyesuaikan dengan suara hati kita. Ini filsafat hidup yang benar. Mudah-mudahan godaan tidak terlalu kuat sehingga tidak melenceng lagi. Terima kasih Pak Haji, 99 persen saya setuju,” akunya.

Diapun bersedia diundang ke acara cerama Aa Gym. “Sesekali kalau Pak Haji ceramah, enggak apa-apa saya ikut. Saya senang ikut ceramah,” pungkasnya. 

Sumber: pojoksatu
Editor: Ari