Dibentak Dokter UGD RSUD Daud Arif Kualatungkal, Warga Ini Ancam Lapor ke IDI

Dibentak Dokter UGD RSUD Daud Arif Kualatungkal, Warga Ini Ancam Lapor ke IDI
RSUD Kualatungkal Tanjab Barat (Heri Anto/BRITO.ID)

BRITO.ID, BERITA TANJAB BARAT - Mengaku mendapat perlakuan kasar dari DNS, okum dokter jaga ruang IGD RSUD Daud Arif Kualatungkal saat membawa istrinya JU berobat di RS, Muhtar akan laporkan hal ini ke Ikatan Dokter Indonesi pusat.

Muhtar, keluarga sekaligus suami pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daud Arif Kualatungkal merasa tak terima dan keluarga pasien bakal melayangkan surat resmi untuk mengadukan persoalan yang terjadi kepada IDI Pusat dan Badan Pengawas Kedokteran.

Muhktar menceritakan, kejadian saat ia membawa istrinya ke RSUD lantaran terkenan gigitan kucing, Senin (9/3). Setelah istrinya mendapat tindakan pertama oleh dokter DT, Ia disarankan untuk mencari vaksin anti rabies ke Dinkes Tanjab Barat lantaran stok obat vaksin tersebut kosong.

"Saat itu istri saya digigit kucing, untuk antisipasi hal yang tidak di inginkan di bawa ke rumah sakit, di sana dapat tindakan media oleh dokter DT sekira pukul 07.00 pagi," ujar Mukhtar memaparkan kronologis kejadian kepada awak media, kamis (12/3/2020).

Berbekal keterangan ini, Muhktar kemudian mendatangi Kantor Dinas Kesehatan Tanjab Barat namun kembali dimintai persyaratan surat pengantar dari pihak Rumah Sakit. Saat kembali mendatangi rumah sakit, pihak penjagaan sudah ganti piket jaga.

"Karena mendapat arahan dari dokter bahwa obat anti rabies bisa di dapat di Dinas Kesehatan kami langsung ke sana, dari Dinas Kesehatan menyatakan untuk dapat obat tersebut harus ada rekomendasi dari RSUD," imbuhnya.

Saat itulah ia mengaku mendapat perlakuan kasar dari DNS yang saat itu menggantikan posisi dokter DT.

"Pada saat perawat menemui dokter DNS disitulah awal keributan nya, kalimat tidak pantas pun terlontar dari mulut sang dokter, siapa yang nyuruh minta kata dokter DN ke perawat dengan nada tinggi, dan saya ada di samping perawat pada saat itu," jelasnya.

Selain berbicara dengan nada tinggi saat diminta surat rekomendasi pengambilan obat rabies, Muhktar mengatakan DNS juga sempat melontarkan tantangan untuk mengadukan persoalan tersebut baik kepada LSM maupun Media.

"Silahkan laporkan sama LSM dan Media masalah ini saya tidak takut," ucap Muhktar menirukan bahasa dokter DNS.

"Ini sebuah preseden buruk terhadap pelayanan kesehatan di Tanjab Barat, terkait peristiwa ini saya akan melaporkan ke pemerintah Tanjab Barat, IDI pusat dan badan pengawas IDI," tegasnya.

Sementara, Direktur Utama RSUD Daud Arif Kualatungkal, Dr. Elfry Syahril saat dikonfirmasi media membenarkan ada keributan itu.

Menurutnya, adanya salah paham antara dokter yang bertugas saat itu dengan pihak pasien. Bahkan, pihak Rumas Sakit juga sudah memangggil Dokter DNS untuk dimintai keterangan.

"Keterangan yang bersangkutan, mengaku nada tinggi yang dimaksud keluarga pasien bukan sengaja ditujukan untuk keluarga pasien namun kepada perawat yang bertugas saat itu." Katanya.

Untuk mengatasi persoalan ini, pihaknya sudah menyiapkan mediasi kedua pihak agar persoalan yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik.

"Hanya miskomunikasi antara dokter dan keluarga pasien. Sudah kita panggil dan yang bersangkutan siap untuk dimediasi dengan pak Muhktar, dan kita pastikan ini hanya salah paham saja," tukasnya.

Penulis: Heri Anto

Editor: Rhizki Okfiandi