Dituding Habib Rizieq Soal Hukum Suka-suka, Begini Kata Polri...

Dituding Habib Rizieq Soal Hukum Suka-suka, Begini Kata Polri...

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Habib Rizieq Syihab mengatakan penegakan hukum di Indonesia suka-suka. Polri, sebagai lembaga yang berada di hulu proses penegakan hukum, menepis pernyataan tersebut.

"Pada prinsipnya, sekali lagi, Polri dalam melakukan penegakan hukum tidak ada tebang pilih, mengedepankan asas equality before the law dan asas praduga tak bersalah," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (22/2).

Dedi menjelaskan setiap proses penegakan hukum berpijak pada fakta hukum. Proses penegakan hukum juga tak dapat berlanjut tanpa adanya alat bukti.

"Fakta hukum itu merupakan pijakan bagi penyidik dalam melakukan penegakan hukum. Tidak boleh melakukan penegakan hukum tanpa alat bukti yang kuat, fakta hukum yang telah terverifikasi," tutur Dedi.

Dia juga menerangkan aparat penegak hukum menanggung beban konsekuensi saat memproses suatu perkara. Bila salah, lanjut Dedi, aparat tersebut terancam sanksi.

"Yang dilakukan polisi ketika melakukan penegakan hukum memiliki konsekuensi juga terhadap yang bersangkutan. Kalau melanggar dalam proses penegakan hukum, sanksinya kode etik," jelas Dedi.

"Sanksinya kalau terbukti di sidang, bisa dipecat tidak dengan hormat atau diputus tidak boleh lagi berdinas di bagian penyidikan atau reserse. Penyidik-penyidik yang tidak profesional dalam proses penyidikan, maka diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dan kalau terbukti melanggar ancaman hukuman sangat jelas," terang Dedi.

Terakhir, Dedi mengatakan proses penegakan hukum adalah ajang pembuktian profesionalisme dan integritas penyidik. "Di situlah diuji," tandas Dedi seperti dilansir detikcom.

Habib Rizieq sebelumnya berbicara mengenai kondisi bangsa dan penegakan hukum suka-suka. Pernyataan itu menjadi bagian dari isi doa Rizieq yang direkam dalam bentuk audio dan disiarkan saat acara Munajat 212 di Monas.

"Banyak santri sekadar mengirim pesan mengkritik penguasa. Seorang perwira di depan media menghardik, santri diadili dan dipenjara tak ada belas kasih dari pemerintah. Sedangkan seorang anak cukong naga mengancam membunuh kepala negara, tapi dengan gagah perwira berkata 'itu hanya lucu-lucuan saja'. Inikah penegakan hukum suka-suka? Astaghfirullah," ujar Habib Rizieq melalui audio yang diputar di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (21/2). (red)