Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-55, Gubernur Jambi: Masyarakat Berkualitas dan Tersedia Lapangan Kerja

Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-55, Gubernur Jambi: Masyarakat Berkualitas dan Tersedia Lapangan Kerja
Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-55, Gubernur Jambi: Masyarakat Berkualitas dan Tersedia Lapangan Kerja

BRITO.ID, BERITA JAMBI -  Upacara peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-55 dipimpin secara langsung oleg Gubernur Jambi, Drs Fachrori Umar Sabtu (27/4/2019) bertempat di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas IIA Jambi. 

Gubernur Jambi, Drs Fachrori Umar saat membacakan sambutan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia menyampaikan bahwa peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-55 tentunya tidak hanya dijadikan kiranti nostalgia untuk mengenang history.

Dengan peringatan ini, harus mampu menjadi spirit Legacy, untuk meneruskan semangat juang dan pengertian para pendahulu serta peletak dasar pemasyarakatan.

"Meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan para pendahulu, sikap menunjukkan dedikasi, loyalitas dan integritas yang tinggi sehingga dapat mewujudkan pemulihan kembali kesatuan hubungan kehidupan dan penghidupan bagi narapidana," ujarnya.

Lanjutnya, keberhasilan pemulihan hubungan kehidupan dan penghidupan, terletak pada kemampuan pemasyarakatan dalam memperbaiki dan meningkatkan kapasitas narapidana baik dalam dimensi kepribadian, mental dan spiritual maupun dalam dimensi kemandirian.  

"Tidak hanya Mandiri secara ekonomi, tapi lebih dari itu juga mampu mandiri dalam menjalankan kehidupannya," katanya.

Indonesia saat ini tengah menghadapi sebuah parcel di mana populasi usia produktif lebih banyak dari usia non produktif, berlebihnya tenaga kerja produktif adalah peluang emas Indonesia untuk ekonomi. Sehingga, pertumbuhan ekonomi meningkat.

"Inilah yang disebut bonus demografi dimana kondisi ini diprediksi akan mengalami puncaknya pada tahun 2030 mendatang," ucapnya.

Dijelaskannya, secara normatif bonus demografi seyogyanya membawa sebuah negara menuju arah lebih baik. Khususnya, membawa kesejahteraan untuk segenap masyarakat, meski terdengar menyenangkan itu bonus demografi. Bukankah perjuangan muda terdapat sejumlah syarat agar bonus tidak berubah menjadi bencana demografi.

"Syarat tersebut yaitu masyarakat harus berkualitas, tersedia lapangan kerja dan untuk meraih manfaat terbesar sumber daya manusia harus memenuhi kebutuhan pasar kerja," ujarnya.

Bagian seperti ini tentu perlu ada perbaikan yang wajib dilakukan oleh pemerintah, untuk membangun kapasitas narapidana yang mendukung pembangunan nasional harus mampu membentuk manusia-manusia menjadi masyarakat.

Diera saat ini semuanya harus berubah  yakni di transformasikan sebagai pranata sosial untuk menyiapkan masyarakat yang tangguh,  berketerampilan dan memiliki produktivitas tinggi yang siap berkompetisi dalam persaingan global.

"Perubahan paradigma tersebut, saat ini diejawantahkan melalui program revitalisasi Pemasyarakatan yang diatur melalui peraturan menteri hukum dan Ham nomor 35 tahun 2018," katanya.

Program revitalisasi diharapkan dapat memberikan perlakuan dengan target yang lebih spesifik, melalui pola individualisasi, perlakuan revitalisasi untuk membentuk sebuah perahu dalam mendistribusikan dari super maksimum dan minimum sekuriti berdasarkan pada tingkat resiko. 

Sehingga, tidak terjadi di suatu tempat di sisi lain kita juga akan melakukan percepatan-percepatan yang didasarkan pada perubahan perilaku. Tidak terpaku pada waktu.

Kekuatan dari sebuah program kebijakan tergantung pada kualitas manusia yang mengeksekusinya sebagai motor penggerak keberadaan manusia seperti generator yang mampu mentransformasikan energi potensial, menjadi energi kinetik sehingga kondisinya harus selalu dijaga dalam keadaan baik agar revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan dapat terlaksana dengan maksimal. Untuk menjaga keadaan tersebut, diperlukan langkah-langkah perbaikan yang dilandasi dengan sebuah kata kunci yaitu komitmen.

Ketika telah memiliki komitmen, tentunya dapat mengaplikasikan niat baik untuk melakukan pembenahan diri, walaupun didasari faktor pendukung lainnya seperti sarana prasarana, ketatalaksanaan, anggaran dan dukungan masyarakat juga memiliki peran strategis untuk sukses pemasyarakatan.

"Dengan momentum ini tentunya dapat melakukan pembuahan dan pembenahan secara masif dan total," tegasnya. (Wan/ADV)