Lima Kelebihan Kue Atun Artisnya Sarolangun Jambi, Nomor Tiga jadi Alasannya

Dialah kue atun. Kuliner tradisional Sarolangun Jambi

Lima Kelebihan Kue Atun Artisnya Sarolangun Jambi, Nomor Tiga jadi Alasannya
Kue Atun. Panganan khas Sarolangun, Jambi.

BRITO.ID - LAIN tempat lain namo, lain adat lain tradisi. Jargon Indonesia dengan keanekaragaman Bhineka Tunggal Ika, tidak mengabaikan makanan tradisional daerah yang memiliki simbol sejarah leluhur kita. Begitulah kira-kira wahai para milenial Jambi.

Layaknya artis yang bisa terkenal kapan pun dan bisa hilang secara tiba-tiba. Rasanya mewah untuk kalangan pencinta kenikmatan, namun jarang sekali mengetahuinya. Dialah kue atun. Kuliner tradisional Sarolangun Jambi.

Baca Juga: Berbahaya! Ini 4 Makanan yang Harus Dijauhi Perempuan Ketika Menstruasi

Kue atun tidak kalah dengan kue tradisional lainnya. Rasa kue atun yang manis terbuat dari resep secara turun temurun. Terjamin rasanya dan tidak akan punah diingatan. Bentuknya yang unik, dan dijual dengan cara yang tidak biasa pula.

Dengan keunikan daerah, hendaknya kita dapat melestarikan makanan khas sebagai kekayaan yang membedakan negara kita dengan negara luar.

Makan dan minum untuk hidup. Kalau hidup tidak ada yang manis, belum lengkap rasanya. Inilah cita rasa kue atun yang dimasak di lingkup kebersamaan.

Artis manis banyak yang suka, jangan biarkan ada yang menunggu. Begitulah kue atun yang manis. Kue Khas makanan Desa Penegah, Kabupaten Sarolangun yang ditutupi secara apik, dan diikat. Dari uraian tersebut wajar saja masyarakat Sarolangun menyukai kue atun.

Berikut lima kelebihan kue atun, artisnya Sarolangun:

1. Dibuat dengan resep Nikno dan Makwo 

Kue atun menjadi sajian kuliner tradisinonal. Sebab kue tersebut sudah lama ada, dan dibuat dengan camapuran bahan yang sederhana. Nikno adalah bahasa desa yang berarti Nenek dan Makwo, yang berarti Bibi. Layaknya keiginan ibu-ibu pada umumnya, selalu memikirkan murahnya harga bahan pokok. Sehingga, kue atun dibuat dengan bahan yang mudah didapat dan harga yang murah.

Adapun bahan-bahan yang diperlukan seperti: Tepung, gula merah, santan, air, gula putih, dan sedikit garam sebagai pengikar rasanya. Cara yang digunakan yaitu mencampurkan seluruh bahan-bahan tersebut, dimasukkan ke dalam susunan daun yang berbentuk pocong kemudian direbus.

Baca Juga: Dulu Legok Kampungnya Narkoba, Sekarang Produsen Batik Motif Ikan Bajubang

2. Tali pembungkus kue atun terbuat dari daun pandan hutan 

Sebelum menjadi tali, digunakan untuk pengikat daun agar tidak tumpah. Daun tersebut dijemur terlebih dahulu. Setelah kering barulah daun dibersihkan dan dipisahkan dari durinya.

Tahap terakhir yaitu dipotong tipis-tipis sehingga berbentuk tali. Bungkus kue tersebut biasanya dari daun kunyit atau daun pisang. Jika dibungkus dengan daun tersebut, aroma dari kue akan semakin wangi.

3. Dijual hanya pada hari Kamis

Inilah alasan kue atun menjadi artisnya Sarolangun. Layaknya seorang artis yang jarang ditemui oleh masyarakat. Nah kue tersebut mengingatkan kita juga kepada artis zaman dua ribuan yaitu Atun. Namanya sangat buming saat itu, karena menjadi salah satu aktor yang berperan sebagai Si Doel Anak Jakarta.

Kue atun sekarang juga jarang sekali ditemukan pada hari-hari biasa. Belum tahu pasti apa penyebabnya. Tapi, tidak pelu khawatir, kue atun juga bisa ditemukan ketika bulan puasa, Idul Fitri atau pun kegiatan kumpul bersama seperti yasinan.

4. Harga kue atun sangat murah dan mengenyangkan 

Prinsip kita "rasa enak dan harga murah" bisa kita temui di kue atun ini. Kue yang berbentuk pocong ini biasanya memilki ukuran yang berbeda. Dapat dilihat dari panjang dan lebar diameternya, biasanya kue atun dihargai sekitar dua ribu, tiga ribu, bahkan sampai tujuh ribu. Memakan satu kue atun saja dapat mengenyangkan untuk individu. Tapi jangan makan sendiri, lebih baik berdua. Iya berdua sama kamu...

5. Kue atun dijual dengan cara digantung

Jangan samai kue atun kelamaan digantung, sama halnya dengan hubungan jika digantung terlalu lama tidak baik jadinya. Dengan digantungnya kue atun yang berwarna cokelat, dan berbentuk pocong dapat menarik perhatian para pembeli.

Dengan keunikan tersebut kue tradisional dapat dijaga dan dikenalkan kepada masyarakat yang belum mengenal kue tersebut. Tapi kue tersebut juga bisa dijual secara biasa. Hanya di letakkan di tempat tergantung.

Itulah lima alasan kelebihan kue atun sebagai Artis Sarolangun. Kenalkan budaya untuk generasi yang ada. Nikmatnya kue atun. Adakah yang ingin mencobanya? Yok, buruan ke Sarolangun.