Musim Trek, Petani Pinang Tanjabbar Mulai Menjerit

Musim Trek, Petani Pinang Tanjabbar Mulai Menjerit
Petani pinang mulai menjerit. (Heri/brito.id)

BRITO.ID, BERITA TUNGKAL - Walaupun harga jual komoditi Pinang di tingkat pengepul mencapai Rp12 ribu perkilogram, namun para petani pinang di Tanjab Barat malah menjerit. 

Pasalnya, Selain kemarau panjang, memasuki musim Trek ternyata mempengaruhi hasil panen Pinang hingga mempengaruhi perekonomian para petani. 

Dedi salah satu petani pinang di Desa Serdang Jaya Kabupaten Tanjab Barat mengakuu, kondisi ini membuat petani pinang kesulitan ekonomi dengan menipisnya hasil panen.

"Rata-rata dari luasan sehektare panen satu hingga ton, sekarang cuma bisa panen sisa sebanyak 20 sampai 30kg sekali panen per hektare," katanya, Senin (22/8)

Untuk menutupi kebutuhan hidup, kata Rohim petani lainnya, para petani kebanyakan meminjam uang ke pengepul. 

"Saya sendiri pinjam sama pengepul buat belanja sehari-hari. Nanti dibayar dari hasil jual pinang, berapa potonganya. Itupun masih nunggu musim trek lewat," keluhnya. 

"Musim trek seperti ini biasanya bisa sampai dua bulan ke depan. Jadi terpaksa ngutang dulu ke Bos tengkulak biar agak bernapas," imbuhnya. 

Salah satu pengepul pinang, Muslim warga Betara Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjab Barat membenarkan memberi pinjaman ke petani, karena pertimbangan rerata petani yang ngutang merupakan pelanggan lama. 

"Kalau pas lagi masuk musim trek ya kita harus ada toleransi. Hampir rata-rata ngutang untuk kebutuhan belanja sehari-hari. Nanti bayarnya dicicil pas panen berikutnya," katanya. 

"Intinya saling mengerti lah, soalnya para pelanggan sudah seperti keluarga sendiri," pungkasnya. (RED)

Kontributor : Heri Anto