Ngeri! Sri Mulyani: 9,85 Miliar Lembar Sampah Plastik Dihasilkan Gerai Retail

Ngeri! Sri Mulyani: 9,85 Miliar Lembar Sampah Plastik Dihasilkan Gerai Retail
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati (tengah) saat memaparkan dampak penggunaan sampah plastik. (IST)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sebanyak 9,85 miliar lembar sampah kantong plastik dihasilkan setiap tahun di Indonesia oleh retail modern.

"Data tersebut diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mencatat 90.000 gerai retail modern di Indonesia menghasilkan sampah plastik," kata dia, saat melaksanakan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Selasa (2/7).

Ia mengatakan besarnya sampah plastik yang dihasilkan oleh retail modern tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia yang dibuang ke laut.

Besarnya konsumsi sampah plastik tersebut, Sri Mulyani menyarankan agar pemerintah perlu mengkaji dampak lingkungan penggunaan plastik terutama terhadap negara.

Komposisi sampah plastik di Indonesia juga mengalami peningkatkan pada tahun sebelumnya dari total sampah secara nasional. Pada 2013 sampah plastik hanya menyumbang 14 persen dari total sampah se Indonesia.

"Namun, pada 2016 sampah plastik mengalami kenaikan menjadi 16 persen dari total keseluruhan sampah di Indonesia," ujar Sri Mulyani.

Dia yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut, juga menyampaikan beberapa contoh kematian hewan di laut akibat mengonsumsi sampah plastik seperti penyu, hiu hingga burung.

Menurut dia, hal tersebut tidak hanya menjadi ancaman bagi lingkungan tetapi juga efek buruk bagi kelangsungan hidup manusia, binatang dan lainnya.

Berbagai gerakan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk pengendalian penggunaan plastik sudah mulai tercermin di beberapa daerah seperti Bogor, Balikpapan, Banjarmasin, Jambi dan Provinsi Bali.

"Adanya gerakan Indonesia diet kantong plastik, surat pernyataan dukungan cukai kantong plastik merupakan langkah baik untuk mengurangi penggunaannya," ujar dia. (red)