Putuskan Aliran Listrik di Angso Duo, PT EBN: Bentuk Ketegasan Kita Terhadap Pedagang Membandel

Putuskan Aliran Listrik di Angso Duo, PT EBN: Bentuk Ketegasan Kita Terhadap Pedagang Membandel
Listrik dipadamkan PT EBN di Pasar Angsoduo. (Dok)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Pemutusan aliran listrik ke sejumlah lapak pedagang yang tidak ingin membayar retribusi, kepada pengelola Pasar Angso Duo merupakan bentuk ketegasan PT EBN terhadap pedagang. 

"Itu bentuk ketegasan kita kepada pedagang yang membandel, agar yang lain tidak ikut-ikutan," ujar Humas PT Erabangun Bumi Nusa (EBN), Ansori Hasan ketika dikonfirmasi BRITO.ID, Senin (28/10/2019).

Menurut Ansori, sebelum dilaksanakannya penarikan retribusi itu, pihaknya telah mensosialisasikan dan duduk bersama pedagang. Dan, itu telah disepakati.

"Kita telah duduk bersama, tetapi memang ada sejumlah pedagang yang menolak dan minta diturunkan retribusi itu," katanya.

Lanjutnya, tarif retribusi yang diminta oleh sejumlah pedagang itu berkisar diangka Rp12 ribu sudah termasuk listrik. Namun, setelah dilakukan pengkajian nilai yang diminta itu tidak logis.

"Retribusi itu diperuntukkan memabayar kebersihan, keamanan serta beberapa keperluan lainnya," katanya.

Ditambahkannya, pihaknya juga tidak menutup diri atas keinginan pedagang untuk duduk bersama kembali untuk diskusi. 

"Kami pengelola memang disuruh Bos untuk selalu berteman dengan pedagang. Karena, antara pedagang dan pengelola merupakan mitra," tandasnya.

Sebelumnya pernah diberitakan, PT Eraguna Bumi Nusa (EBN) dinilai menyengsarakan pedagang Pasar Angso Duo. Pasalnya, pedagang diwajibkan membayar retribusi yang tergolong besar hingga berujung memutuskan sementara arus listrik kedua blok. 

Pemutusan arus listrik itu berawal dari, ratusan pedagang di Blok C dan Blok D yang tidak ingin membayar retribusi kebersihan dan keamanan sebesar Rp10 hingga Rp25 ribu per hari. 

Dengan pungutan itu, pedagang merasa sangat diberatkan. Karena, iuran uang retribusi itu sangat memberatkan. Salah satu pedagang Pasar Angso Duo yang tidak ingin namanya disebutkan mengaku iuran tersebut dirasa sangat memberatkan pedagang. 

Karena, dalam aktivitas berjualan setiap harinya para pedagang belum tentu mendapat keuntungan, tetapi harus membayar retribusi yang sangat mencekik.  

“Kami disini tidak semuanya dapat untung dan tiap hari kami harus membayar retribusi yang sangat memberatkan kami. Terkadang keuntungan yang didapat hanya untuk membayar retribusi itu," ujarnya.

Dijelaskannya, aliran listrik dimatikan sejak tanggal 26 Oktober 2019 malam, karena sebelumnya petugas PT EBN telah meminta uang retribusi kepada pedagang. Namun, pedagang tidak menyanggupi membayar iuran tersebut. (RED)

Reporter : Deni S