Tak Direstui, Pertamina & Eni Gagal Kerjasama Pembangunan Kilang Minyak

Tak Direstui, Pertamina & Eni Gagal Kerjasama Pembangunan Kilang Minyak
Istimewa.

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Kebijakan Uni Eropa melarang impor minyak sawit (Crude Palm Oil) asal Indonesia, berdampak pada kerjasama pembangunan proyek pembangunan kilang penghasil Bahan Bakar Minyak (BBM) ramah lingkungan atau Green Refinary di Plaju, Sumtera Selatan yang dilakukan Pertamina dan Eni SpA.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, sebelumnya Pertamina dan Eni telah terikat kerjasama dalam pembangunan Green Refinary pada kilang Plaju, kilang tersebut didesain mampu mengolah CPO menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Untuk tahap awal Eni akan membangun fasilitas pengolahan CPO dari Indonesia di Milan Italia.

"Kilang tua ditambah unit sendiri yang akan produksi biodiesel dari CPO," kata Nicke, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Menurut Nicke, kebijakan Pemerintah Uni Eropa mengenai larangan impor CPO asal Indonesia membuat kerjasama Pertamina dan Eni dalam pembangunan Green Refain tersebut diputus. Sebab perusahaan minyak asal Italia tersebut memilih membatalkan pembangunan fasilitas pengolahan CPO di Milan dan di Plaju.

"Awalnya kerja sama dengan Eni untuk mitigasi teknis. Tapi ada penolakan CPO di Eropa karena harus terapkan sertifikasi internasional Eni jadi maju mundur," ujarnya.

Nicke mengungkapkan, Eni mendapat teguran dari Pemerintah Uni Eropa sebab sempat kekeh ingin melanjutkan kerjasama, dengan membangun fasilitas pengolahan CPO langsung di Plaju.

"Eni dapat teguran dari pemerintah, walau investasi di Indonesia tapi tetap dilawan juga," tandasnya.

Green Refinery rencananya beroperasi pada 2024 tersebut didesain dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta Kiloliter (KL) per tahun. Dengan kapasitas pengolahan CPO mencapai 20 ribu barel per hari.

PT Pertamina (Persero) dan Eni Indonesia Ltd gagal mengelola Blok Minyak dan Gas Bumi (blok migas) West Ganal dalam lelang wilayah kerja migas tahap I 2019 dengan mekanisme lelang reguler.

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, Pertamina dan Eni Indonesia membentuk konsorsium, menjadi peserta lelang Blok Migas Tahap I dengan mengincar Blok West Ganal, bersaing dengan Neptune Energy Muara Bakau B.V.

"Pertamina dan ENI itu masukkan kan," kata Arcandra, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Arcandra melanjutkan, setelah tim lelang Blok Migas Kementerian ESDM dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Migas (SKK Migas) melakukan evaluasi, Menteri ESDM Ignasius Jonan memutuskan tidak ada yang memenangkan Blok West Ganal. Hal ini disebabkan oleh ketentuan yang tidak sesuai, sehingga harus dilelang ulang dalam periode lelang berikutnya.

"Pememerintah putuskan tidak ada pemenang, Jadi untuk kedua ini, pertimbangan yang dilakukan tim lelang yan terdiri dari ESDM, SKK Migas dan meeting yang dipimpin jonan kita simpulkan bahwa West Ganal harus lelang ulang," tuturnya.

Menurut Arcandra, dalam lelang Blok West Ganal tahap berikutnya, pemerintah akan merubah ketentuan (Term and Condity/TnC), sehingga kontraktor dapat memproduksi migas lebih banyak.

"Ini akan lelang ulang besok dengan TnC berbeda. Untuk itu besok kita lelang dengan TnC yang agak berbeda agar dapatkan kontraktor yang tentunya bisa hasilkan hydrocarbon sesuai dengan harapkan," tandasnya.

Sumber: Liputan6
Editor: Ari