Tentang Pilihan Pulang dan Risiko yang Tidak Terlihat

Tentang Pilihan Pulang dan Risiko yang Tidak Terlihat
Ira Puspadewi. (Detikcom)

Tentang Pilihan Pulang dan Risiko yang Tidak Terliha

Pinto Jayanegara - Penulis buku “Hati-Hati di Jalan”

BRITO.ID, BERITA OPINI - Ira Puspadewi, mantan Dirut BUMN ASDP yang mengelola kapal ferry penyeberangan se-Indonesia. Saya tidak kenal beliau dan tidak pernah bertemu. Tapi saya ingin komentar sedikit tentang kisah beliau.

Saya baru tahu kalau dia lulusan luar negeri dan berkarier lama di luar negeri, hidupnya sudah enak. Tapi beliau milih pulang setelah diajak dan diberi amanah memimpin ASDP. Dan saya jujur merasakan manfaat dari perubahan di masa itu 2020-2022 terutama tiket ferry online. Dulu antre panjang, harus turun beli tiket di warung-warung, itu pun belum tentu online sistemnya. Sekarang rapi dan lancar untuk naik ferry Merak–Bakauheni.

Lalu masa tugas Ibu Ira ini selesai dan badai masalah datang. Saya tidak bahas benar-salahnya atau masalah hukumnya, itu bukan ranah saya. Yang saya lihat hanya faktanya: orang pintar dari luar negeri, dipanggil pulang, lalu akhirnya bermasalah.

Kemudian saya ingat Nadiem Makarim sang pendiri Gojek dan mantan menteri. Sama juga. Lama hidup di luar negeri. SMA di Singapura, kuliah di Brown University dan Harvard di Amerika, kampus paling susah ditembus. Bahkan orang-orang paling pintar pun belum tentu bisa masuk Harvard. Dia pulang, terpanggil bangun Gojek, bantu jutaan orang, lalu masuk pemerintahan. Setelah purnatugas, kita semua tahu bagaimana akhirnya. Dari sebanyak orang yang terbantu karena Gojek, GoFood, GoCar, tidak ada satu orang pun bersuara membela dia atau sekadar mengatakan dia berjasa. Belum lagi cerita Tom Lembong, juga lulusan Harvard, makin panjang lagi urusannya.

Semuanya mirip.

Pulang dari plat luar ganti ke plat merah, diberi tanggung jawab besar, kena masalah.

Ada satu hal lagi yang sering muncul di negeri ini, crab mentality.

Seperti kepiting dalam ember, begitu ada satu yang hampir naik keluar, kepiting lain menariknya turun supaya tidak ada yang lebih tinggi dari kelompoknya. Di banyak daerah, putra daerah yang potensial malah dipotong oleh sesama putra daerah. Maka sedikit sekali yang bisa tembus nasional.

Setelah melihat banyak contoh seperti ini, ini analisa saya:

“Orang yang pernah bekerja, kuliah atau tinggal di negara maju biasanya terbiasa dengan keteraturan, kepastian dan perlindungan hukum. Kondisinya bisa berbeda ketika kembali. Ada baiknya mempertimbangkan matang-matang sebelum berkarier di birokrasi atau plat merah, apalagi di politik lokal. Dengan kemajuan teknologi saat ini, mengabdi atau berkontribusi untuk bangsa tetap bisa dilakukan dari luar negeri bagi siapa pun yang ada di sana.”

Itu fakta dan kenyataannya saat ini.

*Penulis buku “Hati-Hati di Jalan

(*)

Referensi: https://www.kompas.id/artikel/tak-mendapat-keuntungan-pribadi-dari-akuisisi-pt-jembatan-nusantara-mantan-dirut-asdp-divonis-45-t