Guru Besar Ini Sebut AHY Bodoh dan Tantang SBY, Ini Alasannya

Guru Besar Unversitas Sumatra Utara (USU) Prof Yusuf Leonard Henuk membuat kontroversi di dunia maya. Cuitannya di Twitter, menyinggung nama Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sang Ayah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Guru Besar Ini Sebut AHY Bodoh dan Tantang SBY, Ini Alasannya
Prof Yusuf Leonard Henuk. (Istimewa)

BRITO.ID, BERITA MEDAN - Guru Besar Unversitas Sumatra Utara (USU) Prof Yusuf Leonard Henuk membuat kontroversi di dunia maya. Cuitannya di Twitter, menyinggung nama Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sang Ayah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam beberapa cuitannya, Yusuf memberikan komentar pedas terhadap AHY dan SBY. Hingga akhirnya mengundang perdebatan panas. Hingga beberapa pesohor publik pun ikut berkomentar.

Yusuf tercatat sebagai Guru Besar di Fakultas Pertanian USU. Dia merupakan dosen pindahan dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Polemik ini mencolok sejak Prof Yusuf mulai menyinggung nama AHY di laman twitternya. Dia menyebut AHY bodoh karena membahas soal kecelakaan pesawat Sriwijaya Air beberapa waktu lalu. 

" YthKetua Umum @ PDemokrat, @AgusYudhoyono, @ProfYLH udah harus buktikan memang kau BODOH sekali, karena sepanjang sejarah jatuhnya pesawat di Indonesia tak pernah ada" GOVERNMENT ERROR "penyebabnya. Tapi" 7 FAKTOR "(http://indonesiabaik.id/infografis /7-faktor-penyebab-jatuhnya-pesawat).Maaf kau bodoh turunan, belajar lagi AHY!,” ujar Yusuf dalam cuitannya pada 12 Januari 2021 pagi.

Cuitan ini menuai perdebatan panjang. Termasuk menyulut komentar dari Marzuki Alie yang merupakan mantan Sekjen Demokrat. "Maaf prof, sy jg dosen, sy banyak teman2 rektor PTN n PTS, sy pernah ke USU kasih kuliah umum, bertemu mhsw yg demo soal UKT. Bahasa seorang pendidik harusnya bahasa akademik, bukan buzzer atau preman, anda mendidik anak2 calon pemimpin, bgmn kelakuan anak didik dg contoh spt ini," cuit Marzuki Alie membalas Yusuf.

Sebelumnya, Yusuf juga menyinggung ayah AHY yang merupakan Presiden Indonesia ke-6.

"[email protected],tahu dirilah kau sudah mantan jadi jangan sok mengajari @jokowi soal pembangunan proyek strategis nasional,karena kau memang gagal&telah dijuluki:"Bapak Mangkrak Indonesia", jadi tak pantas kau ajari @jokowi "ikan berenang" karena pasti malu kalipun kau, paham!," cuit Yusuf pada Sabtu 9 Januari 2021.

Menilik isi cuitannya,  Yusuf memang kerap menyinggung nama SBY. Bahkan terkadang cuitannya dianggap bernada penghinaan. Dia sering mengatakan jika SBY adalah mantan presiden yang tidak pantas berkomentar atas kinerja Joko Widodo.

Dalam wawancaranya kepada IDN Times, Yusuf memang mengungkapkan jika dia adalah pendukung Jokowi. Dia tidak bisa melihat jika Jokowi disinggung. Karena Jokowi sudah diberi gelar sebagai Maneleo Rote Ndao atau raja dari para raja di Pulau Rote. Sebagai orang dari Rote,  Yusuf harus membela Jokowi.

“Kalau ada orang ganggu dia saya terganggu. saya marah, terhina,” ujar Yusuf.

“Saya orang Rote, sudah terikat dia (jokowi) raja kami. Apapun  saya harus bela. Karena itu menyangkut suku kami,” imbuhnya.

Cuitan Yusuf L Henuk di twitter. (Sumber: @ProfYLH)

Soal SBY yang disebutnya sebagai ‘Bapak Mangkrak’ dia menganggap itu adalah kenyataan. Yusuf juga menyatakan jika tidak hanya dirinya yang menganggap itu. Dia juga kemudian mengkritisi pernyataan SBY lainnya soal vaksin COVID-19.

“Saya tidak setuju dia bilang kalau vaksin ini chaos. Seolah olah dia mau samakan chaos-nya vaksin ini nanti dengan apalah misalnya kan. Sekarang tidak ada bukti ini vaksin chaos-kan?,” bebernya.

Dia pun balik menantang SBY yang saat ini dianggapnya enggan menanggapi. Dia pun tidak mau jika polemik ini menyangkut Partai Demokrat. Karena Yusuf menganggap, cuitan itu hanya menyasar SBY dan AHY secara pribadi.

“Tujuan dia kan mau salahkan pemerintah. Salah pemerintah di mana. Coba, semua yang saya bilang itu ada sumbernya. Misalnya oke, kalau mangkrak itu semua orang sudah tahu. Sudah jelas to,” tukasnya.

Cuitan Yusuf L Henuk lainnya yang juga menyentil nama SBY. (Sumber: @ProfYLH)

Yusuf beranggapan, apa yang dilakukannya adalah menjalankan tugas sebagai guru besar untuk memberikan pencerahan. Namun sayangnya, kebanyakan cuitan Yusuf memang menyasar SBY dan AHY.

Yusuf pun mengaku siap jika harus berhadapan dengan hukum jika polemik ini dilaporkan. “Silahkan dia mau bawa ke UU ITE, saya gak masalah. Pengadilan kan bukan berarti habis. kita masih ada banding kasasi. Saya bertahan pada posisi saya kalau saya pendidik. saya punya sumber bacaan kuat,” ujar Yusuf.

Dia juga  balik menantang akan melaporkan balik orang-orang yang melontar komentar negatif saat membalas cuitannya.

“Divisi hukumnya bilang saya sakit jiwa. Lah emang saya sakit jiwa? Saya kan tidak sakit jiwa, saya masih sehat. Kalau dia mau bela AHY , kemarin dia bilang saya guru binatang,” ujar Yusuf.

Demokrat tampaknya berang dengan cuitan Guru Besar USU itu. Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) DPP Partai Demokrat Ossy Dermawan mengatakan jika cuitan yang dilontarkan Yusuf sangat tidak pantas. Apalagi dia adalah seorang akademisi.

“Narasi yang disampaikan melalui twit-twitnya menurut saya tidak pantas keluar dari seorang akademisi. Substansinya tidak mendidik. Narasi yang tidak bermoral itu telah mengundang kemarahan bukan hanya kemarahan para kader Partai Demokrat seluruh Indonesia utamanya di Sumatera Utara, namun juga rakyat Indonesia yang masih sangat menghargai para pemimpinnya termasuk Bapak SBY,” ujar Ossy.

Ossy juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan jika Demokrat akan membawa polemik ini ke ranah hukum.

“Terkait dengan proses hukum, saya pikir banyak kader dan simpatisan Partai Demokrat yang merasa tidak terima dan mungkin saja berujung pada pelaporan hukum oleh kader atau simpatisan Partai Demokrat di daerah utamanya di Sumatra Utara,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Yusuf L Henuk juga pernah ditetapkan menjadi tersangka kasus penistaan agama 2020 lalu. Kasus itu bergulir sejak 2019 lalu. Yusuf diduga menghina Gereja Advent. Namun Yusuf kemudian meminta maaf.

Sumber: IDN Times/sumut.idntimes.com
Editor: Ari