Kasus Dihentikan, Pelaku Pembacokan Tukang Sayur di Kumpeh Ulu Dinyatakan Gila

Kasus Dihentikan, Pelaku Pembacokan Tukang Sayur di Kumpeh Ulu Dinyatakan Gila
Pelaku Saat Berhasil Ditangkap Polisi Beberapa Waktu Lalu (ist)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Masih ingat dengan kasus pembacokan terhadap tukang sayur keliling bernama Tatik di Desa Sumber Jaya Kecamatan Kumpeh Ulu Muarojambi pada 9 September 2019 silam.

Tatik dibacok hingga oleh Rahman yang juga warga setempat. Kejadian tersebut sepintas biasa saja, namun ada yang janggal.

Pasalnya, sebelum membacok korban, Rahman sempat memotong alat kelaminnya terlebih dahulu dan mengaku dirinya Dajjal.

Polisi pun kemudian berhasil menangkap Rahman dibantu warga sekitar. Rahman ditangkap dan mendapat perawatan medis.

Selanjutnya, polisi pun melakukan tes kejiwaan terhadap Rahman. Hasilnya, Rahman dinyatakan tidak mampu menggunakal akal dan kesadarannya alias (maaf) tidak waras.

"Kalau hasil tes yang dilakukan oleh tim medis rumah sakit jwa yang disampaikan ke kita, pelaku mengalami gangguan kejiwan atau gila," cetus Kasat Reskrim Polres Muarojambi AKP George Alexander Pakke Minggu (15/12/19).

Kasat menyebut, Rahman saat ini berada di RSJ Raden Mattaher Jambi guna dilakukan perawatan kejiwaan.

Terhadap hasil tes kejiwaan tersebut, Polres Muarojambi pun melakukan koordinasi dengan pihak Kejaksaan Negeri Muarojambi. Lantaran kondisi pelaku yang mengalami gangguan kejiwaan, kemungkinan kasus ini bisa saja dihentikan.

"Pelaku ini kan dinyatakan gila oleh dokter ahli kejiwaan, makanya kita koordinasikan dengan pihak kejaksaan apakah kasus ini bisa dilanjutkan atau tidak," sebutnya.

Terpisah, Kasi Tindak Pidana Umum Kejari Muarojambi Bambang Harmoko mengatakan berkas tersangka sudah diterima pihaknya. Di dalam berkas yang disampaikan tersebut, pelaku benar dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan alias gila oleh dokter ahli kejiwaan dari RSJ Raden Mattaher Jambi.

"Dari berkas yang disampaikan ke kita dari polres itu, hasil tes kejiwaan, pelaku tidak bisa menggunakan kesadaran atau akalnya," kata Bambang.

Lantaran kondisi kejiwaan pelaku, sesuai Pasal 44 ayat (1) KUHP berbunyi tidak dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.

"Ya kasus ini dihentikan sesuai Pasal 44 ayat (1) KUHP," pungkas Bambang. 

Penulis: Raden Romi

Editor: Rhizki Okfiandi