Kisah Haru Remaja Penjual Gorengan yang Dibully Berbuah Manis, Kini Banjir Bantuan
Nasib Baik dialami RZ (12) bocah penjual jalangkote yang menjadi korban pembully-an oleh sekelompok pemuda di Lapangan di Pangkep, Sulawesi Selatan ini tidak pernah menyangka jika kasus yang dialaminya berbuah manis. Dukungan dan bantuan terus mengalir dari sejumlah pihak.
BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Nasib Baik dialami RZ (12) bocah penjual jalangkote yang menjadi korban pembully-an oleh sekelompok pemuda di Lapangan di Pangkep, Sulawesi Selatan. Dia tidak pernah menyangka jika kasus yang dialaminya berbuah manis. Dukungan dan bantuan terus mengalir dari sejumlah pihak.
Bukan hanya sekadar iba, sosok RZ bagi sejumlah pihak adalah sebuah inspirasi hidup yang patut dicontoh. Betapa tidak, kesabaran dan kerja kerasnya selama ini telah diganjar manis, meski harus diawali dengan kasus yang membuatnya sempat terpukul.
Anak kedua dari tiga orang bersaudara itu, memang memiliki sikap penyayang pada keluarganya. Meski ia tidak memiliki prestasi di bidang akademik, namun kiprahnya dalam membantu orang tua mencari nafkah membuatnya menjadi spesial di mata keluarga.
"Harusnya dia sudah kelas 1 SMP sekarang. Tapi karena anaknya begitu, yah sering tinggal kelas. Ketertarikannya memang berjualan. Meski sudah kami larang. Katanya mau bantu bapaknya yang juga jualan gorengan di pasar," kata ibu RZ, Dahlia kepada detikcom, Senin (18/05/2020).
Setiap hari, RZ berjualan gorengan jalangkote yang dibuat oleh bibinya dengan menggunakan sepeda yang tanpa rem. Sebelum ramadhan, RZ malah juga berjualan putu keliling sebelum berangkat sekolah dan pulangnya baru menjajakan jalangkote. Jika jualannya habis, ia diberi upah Rp 10 ribu.
"Sebelum ramadhan, dia kalau pagi itu jam 6 sampai jam 7 jualan putu keliling. Kalau pulang dia baru jualan jalangkote. Dikasi Rp 10 ribu kalau habis (jualannya). Uangnya lalu dikasi sebagian ke saya, katanya untuk beli popok adiknya yang masih bayi," ucap Dahlia.
RZ selama ini memang tidak pernah bercerita ke orang tuanya jika ia kerap diganggu oleh kelompok anak muda saat berjualan. Bahkan, jika ia pulang dalam keadaan badan lecet, RZ malah bilang, jika itu akibat terjatuh dari sepeda bututnya.
"Sebenarnya sering kami dengar kalau di luar itu, dia sering diganggu. Tapi dia selalu sembunyikan dari kami. Karena dia tidak mau kalau kami larang dia berhenti jualan. Terakhir ini, dia juga tidak mau bilang," lanjutnya.
Sejak pandemi COVID-19 melanda, usaha ayahnya, Muzakkar juga ikut terpuruk. Dalam sehari, ayahnya itu hanya bisa mendapatkan hasil berjualan gorengan sebesar Rp 20 ribu dan hanya cukup untuk makan. Hal itu pula lah, yang membuat RZ tak mau berhenti berjualan.
"Dulu suami saya itu tukang becak motor (bentor). Tapi karena sudah sepi pelanggan, makanya beralih jualan gorengan. Lumayan pendapatannya, tapi pas corona, jadi susah sekarang. Ini juga yang buat anak saya tidak mau berhenti jualan," paparnya.
Meski saat ini RZ mendadak jadi tenar, dirinya mengaku akan tetap berjualan jalangkote keliling untuk membantu orang tua dan juga bibinya. "Saya akan tetap jual jalangkote," teriak RZ di tengah kerumunan warga.
Sumber: detikcom
Editor: Ari

Ari W