Muka Feby Febiola Pucat Saat Dokter Sebut Sel Kanker Ovarium

Feby Febiola syok berat saat dokter menemukan massa yang menumpuk di indung telur sebelah kanan. Feby Febiola menggambarkan kala itu syok yang rasakannya melampaui stres.

Muka Feby Febiola Pucat Saat Dokter Sebut Sel Kanker Ovarium
Feby Febiola botakin kepalanya. (Ist)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Feby Febiola syok berat saat dokter menemukan massa yang menumpuk di indung telur sebelah kanan. Feby Febiola menggambarkan kala itu syok yang rasakannya melampaui stres.

“Bukan stres lagi. Jadi begini, karena gue itu saat-saat paling nervous adalah saat gue dibilang ada massa pas lagi CT scan itu,” ujar Feby Febiola, bintang film Kapan Kawin dan Semesta Mendukung.

Untuk mengalahkan kanker, Feby Febiola menempuh operasi yang dikenal dengan frozen section. Keluar dari ruang operasi, Feby Febiola menanyakan hasilnya kepada suami.

“Namanya frozen section. Jadi dibuka, sampel gue diambil, dikirim ke laboratorium habis itu dilihat ganas apa enggak. Suamiku bilang, ya, itu kanker ganas. Pas dengar itu kanker ganas, gue santai saja,” urai Feby Febiola.

Ia tak tahu mengapa bisa sesantai itu. Bisa jadi itu bentuk kepasrahan kepada Sang Khalik atau ia masih di bawah pengaruh obat bius yang diberikan dokter sebelum operasi.

“Suamiku bilang, tapi menurut penglihatan mata dokternya belum nyebar. Pas dibilang belum nyebar itu, gue agak lega,” artis kelahiran Jakarta, 24 Mei 1978, itu menerangkan.

Ia menceritakan ini dalam video percakapan jarak jauh bertajuk “Feby Febiola: Aku Baik-baik Saja, Doakan Aku” yang mengudara di kanal YouTube Maia Estianty, Senin (3/8/2020). Vonis kanker ovarium diterimanya dengan legawa.

Feby Febiola teringat momen paling seram. “Yang paling seram, waktu dokter bilang begini, Mbak Feby, kita sudah berhasil angkat tumornya. Tapi untuk tahu sampai mana penyebarannya, itu kita harus tunggu seminggu lagi. Muka gue langsung pucat,” katanya.

Beruntung syok ini tak berlangsung lama mengingat dokter menjelaskan dengan air muka tenang. “Setelah melihat mukanya tenang, gue lebih santai,” Feby Febiola menceritakan.

Penantian selama sepekan diisi Feby Febiola dengan doa. Setelah itu dokter menyatakan sel-sel kanker belum menyebar tapi ia harus menjalani kemoterapi. Habis operasi berat badannya turun sekitar 7 kg.

“Naiknya justru habis kemoterapi. Cuma memang kemoterapi ada efeknya sekitar 2 atau 3 hari gue merasa bad mood, pegal-pegal, badan gue kayak ada semut gitu lo tiba-tiba jalan di (bagian tubuh) mana, kayak diestrum-setrum,” pungkas Feby Febiola.

Sumber: liputan6.com
Editor: Ari