SEDIH! Nurhayati Curhat: Pak Jokowi Tolong Pulangkan Jenazah Anak Saya dari Malaysia

SEDIH! Nurhayati Curhat: Pak Jokowi Tolong Pulangkan Jenazah Anak Saya dari Malaysia
Nurhayati (jilbab) meminta bantuan Presiden RI Joko Widodo untuk pemulangan jenazah anaknya di Malaysia (Deni/brito.id)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Tak memiliki biaya untuk memulangkan jenazah sang anak dari Malaysia, seorang ibu di Kota Jambi berupaya kesana-kemari mencari dana. Sayangnya belum membuahkan hasil.

Selasa (17/9/2019) dirinya dihadapan awak media memohon kepada Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo supaya dapat membantu proses pemulangan tersebut.

Berdasarkan keterangan yang di dapat, korban yang meninggal dunia itu Rena Wati (25) merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Asal Jambi anak dari pasangan suami isteri Nurhayati (63) dan Syaiful Anwar (67) warga Kenali Asam Bawah Kota Jambi telah meninggal dunia sejak dua bulan lalu.

Nurhayati mengatakan, dirinya meminta anaknya untuk di kembalikan ke Indonesia dalam segala kondisi.

"Tolong pak Jokowi bantu pulangkan anak kami, yang meninggal di Malaysia, meninggal di University Malaya Medical Centre  Lembah Pantai, 59100 Kuala Lumpur, Federal Territory of Kuala Lumpur, Malaysia, Telp: + 60379494422," katanya.

Sambil menangis, berharap sang anak dapat dipulangkan dalam kondisi apapun.

"Saya berharap kalau memang meninggal dunia, anak saya dapat di kuburkan di Jambi," ujarnya.

"Sudah dua tahun berada di sana, terakhir komunikasi 9 Agustus 2019 lalu," ungkapnya.

Menurut Nurhayati, pihak keluarga mengetahui jika Rena Wati tersebut meninggal sejak akhir Agustus 2019 lalu, namun surat kematian yang diterima keluarga melalui Kepolisian korban telah meninggal dunia sejak 27 Juli 2019 lalu.

Dikatakan keponakan korban, Mayang bahwasanya dalam informasi meninggalnya tantenya tersebut memiliki kejanggalan. Pasalnya, surat kematian yang diterima pihak keluarga, korban meninggal pada 27 Juli 2019.

Namun dirinya memastikan pada tanggal 9 Agustus 2019 masih berkomunikasi dengan Rena Wati memalui videocall Whatsaap pribadinya.

"Masih VC waktu itu, katanya dia di masih di Malaysia dalam kondisi sehat," sebutnya.

Mayang juga mengaku sempat diminta kepolisian untuk menandatangani surat kematian dan surat-surat lainnya jika korban tersebut telah meninggal dunia.

"Iya, suratnya waktu itu dibawak kerumah ini. Tapi waktu itu kita tidak berani, tetapi kakek  yang menandatangani," ungkapnya.

Kata dia saat itu pihak kepolisian menyampaikan untuk memulangkan korban ke Jambi membutuhkan uang Rp50 - 60 juta. "Kami tidak punya  uang segitu, kami saja tinggal di rumah bocor seperti ini," keluhnya. (RED)

Reporter : Deni S