Terkait Harun Masiku, ICW Sentil Aksi Ketua KPK Makan Nasi Goreng di Depan Media Gimmick Aneh

Terkait Harun Masiku, ICW Sentil Aksi Ketua KPK Makan Nasi Goreng di Depan Media Gimmick Aneh
Kurnia peneliti ICW. (Istimewa)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak serius mencari eks caleg PDI-P Harun Masiku yang merupakan tersangka kasus dugaan suap ke Wahyu Setiawan terkait pergantian antar waktu anggota DPR.

Peneliti ICW pun mengkritik pimpinan KPK yang dinilainya lebih sibuk bersafari ke sejumlah lembaga ketimbang mencari keberadaan Harun Masiku.

"Justru Pimpinan KPK bukannya malah serius menangani perkara ini, akan tetapi justru malah terlalu sering safari ke beberapa lembaga negara," kata Kurnia dalam keterangan tertulis, Selasa (11/2/2020).

Kurnia juga mengungkit aksi Ketua KPK Firli Bahuri memasak nasi goreng di depan awak media yang disebutnya sebagai gimmick aneh.

Menurut Kurnia, tidak heran apabila publik memandang Pimpinan KPK tidak serius dalam menangani kasus Harun Masiku.

"Misalnya saja merujuk pada kegagalan KPK dalam menyegel kantor PDI-P, kegagalan Pimpinan KPK menjelaskan apa yang terjadi di PTIK, dan perihal kantor DPP PDI-P yang sampai saat ini tak kunjung digeledah oleh KPK," kata Kurnia.

ICW pun mendesak Pimpinan KPK menjelaskan tenggat waktu pencarian Harun Masiku kepada publik.

Sebab, proses ini sudah terlalu berlarut-larut," ujar Kurnia.

KPK menetapkan empat orang tersangka dalam kasus suap ini yaitu Komisioner KPU Wahyu Setiawan, eks caleg PDI-P Harun Masiku, eks anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina, dan seorang pihak swasta bernama Saeful.

KPK menetapkan Wahyu sebagai tersangka karena diduga menerima suap setelah berjanji untuk menetapkan caleg PDI-P Harun Masiku sebagai anggota DPR terpilih melalui mekanisme PAW.

KPK menyebut Wahyu telah menerima uang senilai Rp 600 juta dari Harun dan sumber dana lainnya yang belum diketahui identitasnya. Sedangkan, Wahyu disebut meminta uang operasional sebesar Rp 900 juta untuk memuluskan niat Harun.

Harun sudah sebulan lebih berstatus buron sejak ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini pada Kamis (9/1/2020) lalu.

KPK sendiri hingga kini belum mengetahui keberadaan Harun. Harun disebut terbang ke Singapura pada Senin (6/1/2020) lalu, dua hari sebelum operasi tangkap tangan terhadap Wahyu dan tersangka lainnya.

Belakangan, Dirjen Imigrasi Kemenkumham Ronny Sompie menyebut Harun telah tiba di Tanah Air pada Selasa (7/1/2020), sehari sebelum OTT terhadap Wahyu.

Sumber: kompas.com
Editor: Ari