Buka Puasa di Hari Pertama, PLN Muarojambi Matikan Listrik di Mestong
Di hari pertama puasa Jum'at (24/4/20) kemarin ternyata banyak masyarakat yang kurang khidmat menikmati waktunya berbuka puasa.
BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Di hari pertama puasa Jum'at (24/4/20) kemarin ternyata banyak masyarakat yang kurang khidmat menikmati waktunya berbuka puasa.
Seperti halnya, warga di Desa Suka Maju, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. Mereka berbuka puasa di hari pertama Ramadhan dengan gelap-gelapan dan hanya berpelitakan lilin saja.
Aliran listrik di tempat mereka padam sudah sekitar 6 jam sejak pukul 17.00 WIB sampai sekitar pukul 22.30.
Dengan padamnya listrik ini membuat warga di desa tersebut menjadi geram. Bahkan, mereka juga mempertanyakan kesiapan PLN dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan ini.
Bahri, seorang warga setempat mengatakan bahwa ia bersama keluarganya di hari pertama berbuka puasa hanya dengan cahaya dari sebuah lilin.
"Kami berbuka puasa di hari pertama ini gelap-gelapan. Entah apa yang dilakukan PLN ini. Padahalkan para umat muslim di saat Maghrib harus berbuka puasa," kata Bahri Jumat malam.
Dijelaskan Bahri, apalagi dengan kondisi saat ini, para masyarakat diharuskan berdiam diri di rumah. Bahkan, beribadah pun juga di rumah.
"Kita disuruh di rumah saja. Tapi, di rumah listrik dipadamkan. Ini aja kerja saya yang menggunakan aliran listrik menjadi tertunda," ujarnya.
"Sudah enam jam lampu mati. Kalau memang ada yang rusak, seharusnya merekan sudah melakukan pengecekan dulu dan mempersiapkan. Agar selama bulan Suci Ramadhan ini masyarakat bisa nyaman untuk di rumah saja," sambungnya.
Hal senada juga disampaikan Cipto, menurutnya ini menjadi representasi pelayanan nan buruk bagi PLN karena tak bisa menjamin masyarakat untuk kebutuhan penerangan yang stabil.
"Sudahlah gelap, ditambah pula disuruh di rumah saja. Semakin sepi rasanya puasa tahun ini. Baru awal puasa sudah begini," sebutnya.
"Ke depan kita jangan ada lagi lah seperti ini. Pihak PLN harus bisa menjamin listrik di sini tidak padam lagi. Sedih nian rasonyo, mau keluar takut corona, di rumah saja malah gelap-gelapan," tandasnya.
Penulis: Raden Romi
Editor: Rhizki Okfiandi
