Bukti Peninggalan Peradaban Melayu di Jambi Kecil Muarojambi, Mulai dari Makam hingga Fakta Keturunan Raden

Jambi Kecil merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi

Bukti Peninggalan Peradaban Melayu di Jambi Kecil Muarojambi, Mulai dari Makam hingga Fakta Keturunan Raden
Peninggalan Makam di Jambi Kecil Muarojambi (ist)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Jambi Kecil merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Di wilayah hukum Kelurahan Jambi Kecil ini cukup banyak tersimpan bukti-bukti peradaban melayu Jambi di masa lalu.

Bukti-bukti peninggalan bersejarah itu bermacam-macam. Setidaknya ada sembilan bukti peninggalan yang dapat ditemukan di sana. Bukti sejarah itu berupa Kuburan Rajo Tinggi dan keluarganya di seberang Jambi Kecil di RT 08, Kuburan Tuo di sepanjang rumah penduduk kampung Jambi Kecil, serta Kuburan Tuo Keramat Temening Jambi Tulo – Jambi Kecil.

Kemudian ada juga bukti sejarah berupa Kebun Durian Rajo di RT 08 Jambi Kecil, Pematang Kebun Duren Rajo, Taman Rajo di RT 01, 08, 09, dan 10,  Kuburan Tuo Keramat Sungke di RT 02, Makam Batu Nisan Sungkai di Rt 07 dan Makam Batu Nisan Sungkai di RT 08.

Salah Satu Peninggalan Sejarah di Jambi Kecil (ist)

Keberadaan berbagai peninggalan peradaban melayu Jambi tersebut hingga kini masih misteri. Sama sekali belum ada catatan ahli sejarah yang dapat dijadikan acuan untuk menjelaskan bukti-bukti peradaban melayu Jambi yang masih tersisa itu.
 
Menggali informasi terkait peninggalan-peninggalan bersejarah di Kelurahan Jambi Kecil sangat sulit. Keturunan-keturunan para pelaku sejarah di Kelurahan Jambi Kecil mayoritas sudah tidak mengetahui kisah di balik bukti-bukti bersejarah tersebut.

Beruntung ada salah satu keturunan dari pelaku sejarah yang bersedia bercerita. Meski kisah yang diceritakannya tidak lengkap, tetapi setidaknya mampu memberikan gambaran sekelumit tentang bukti-bukti bersejarah tersebut.

Beliau adalah M.Taufik,SH, cicit dari almarhum Raden Ma Dayut. Buyutnya Raden Ma Dayut merupakan salah satu pelaku sejarah di Kelurahan Jambi Kecil. Buyutnya itu dahulu berdomisili dan wafat di Jambi Kecil.

M.Taufik,SH mengatakan, tidak terungkapnya sejarah atas berbagai bukti peninggalan peradaban melayu Jambi yang ada di Kelurahan Jambi Kecil tidak lepas dari minimnya pengetahuan masyarakat setempat.

“Kenapa bukti-bukti sejarah itu tidak terungkap? Itu karena kurangnya pengetahuan masyarakat serta kurangnya literatur. Para Ahli sejarah tentu akan kesulitan,” ujarnya.

M.Taufik menjelaskan, di wilayah Kelurahan Jambi Kecil, Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi, tersebar beberapa bukti-bukti peradaban melayu Jambi. Berbagai peninggalan yang menjadi saksi bisu sebuah peradaban di masa lampau itu sampai saat ini memang belum terungkap kepermukaan.

“Ini semua tidak bisa dipisahkan dengan kondisi negeri Jambi yang dulunya jajahan Belanda. Khusus di wilayah Kelurahan Jambi Kecil ini sudah hampir ratusan tahun ada berbagai cerita dan bukti-bukti peradaban. Namun, tidak pernah mendapat perhatian dan sentuhan dari pihak pemerintah maupun pihak lainnya,” kata M.Taufik.SH.

Menurut M.Taufik, dirinya sempat menggali sumber Informasi dari anak keturunan Raden Ma Dayut. Buyutnya itu ternyata dulunya bermukim di seberang Sungai Jambi Kecil sekitar tahun (±1840an).

“Di lokasi permukiman itu dulu ada Lobang Tonggak Kayu yang sekarang hampir tidak nampak lagi karena termakan usia,” ujarnya.

Peninggalan Malam Bersejarah di Muarojambi (ist)

Dia menjelaskan bahwa almarhum neneknya bernama Ratumas Siti Maryam Bin Raden Ma Dayut hidup sekitar tahun (±1920an). Neneknya itu pernah mengungkapkan bahwa buyutnya Raden Ma Dayut terpisah dengan saudara kakak beradiknya akibat gencarnya agresi Belanda dan Jepang.

Seluruh keturunan raden dan kemas yang ada bermukim di daerah Jambi Kecil dan wilayah lainnya ketika itu dibawa dan dimobilisasikan untuk melawan penjajah. Mereka kemudian dikumpulkan ke daerah pinggiran aliran Sungai Batang Hari bersama dengan keturunan raden dari daerah Tebo, Pijoan, Merangin,Tembesi, Tungkal dan lainnya.

“Sebagian keturunan raden ada yang kabur bertahun-tahun di hutan belantara sampai ke daerah Riau, Kuap, Muaro Pijoan, Kuala Tungkal bahkan ke Malaka,” ujarnya.

Setelah kondisi aman, Raden Ma Dayut akhirnya pulang ke Jambi Kecil. Lokasi tinggalnya kalau saat ini berada di RT 08 Dusun Durian Rajo, Kelurahan Jambi Kecil. Sementara raden yang lainnya ada yang tetap bermukim di Tanjung Raden, Sarolangun, Riau, Kuala Tungkal, Muaro Pijoan, Merangin dan wilayah lainnya.

M.Taufik.SH juga mengungkap fakta di masa penjajahan belanda para keturunan raden sangat diburu. Masyarakat dipaksa menunjukkan lokasi persembunyian atau pelarian raden. Mereka yang tidak bersedia memberi informasi dipastikan akan diintimidasi dan dibunuh.

“Posisi masyarakat dilema. Kalau masyarakat ngasih informasi, maka keturunan raden juga akan mengintimidasi mereka,” ujarnya.

M.Taufik.SH menjelaskan bahwa bukti-bukti peninggalan yang ada di Kelurahan Jambi Kecil merupakan sejarah masa lampau. Bukti-bukti itu masih dapat dilihat walau kondisinya telah banyak berubah seiring dengan waktu dan beralihnya kepemilikan lahan.

Bukti-bukti yang masih tersisa itu seperti Kebun Durian Rajo di RT 08 sebrang Sungai Jambi Kecil, kemudian Tonggak Bangunan Tiang Rumah di seberang Sungai Jambi Kecil, Dusun Durian Rajo RT 08. Selanjutnya ada Pemakaman Raja beserta makam pengikutnya yang berjumlah ratusan terletak di RT 08 Kelurahan Jambi kecil.

“Makam itu lebar 5 meter dengan panjang 9 meter. Tinggal beberapa yang ada nisannya, kebanyakan sudah tergerus dan belobang sehingga tidak bernisan lagi,” katanya.

Ada juga bukti peninggalan berupa lokasi pemakaman di seberang Kelurahan Jambi Kecil tepatnya di RT 08. Masyarakat setempat menyebut lokasi pemakaman itu Perkuburan Rajo. Namun, masyarakat tidak mengetahui secara persis tentang sejarah pemakaman tersebut.

“Harapan kita, semoga bukti-bukti peninggalan ini bisa menjadi perhatian pemerintah dan sejarah dari peradaban itu terungkap,” kata M.Taufik.SH.

Penulis: Raden Romi
Editor: Rhizki Okfiandi