Kisah Penyintas Covid-19 Terpapar dari Suami Dokter, Sempat Down Dua Hari dan Begini Cara Penyembuhan Dilakukannya

Yunita Ramadhani wanita hamil ini, salah satu penyintas yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 berdasarkan hasil swab kedua kali. Dia adalah wanita yang tangguh setelah lebih dari 20 hari berjuang dari serangan Corona terhada tubuhnya.

Kisah Penyintas Covid-19 Terpapar dari Suami Dokter, Sempat Down Dua Hari dan Begini Cara Penyembuhan Dilakukannya
Yunita dan suaminya dr Rory Sakarov beserta anaknya. (Ist/pri/brito.id)

BRITO.ID, BERITA BUNGO - Yunita Ramadhani wanita hamil ini, salah satu penyintas yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 berdasarkan hasil swab kedua kali. Dia adalah wanita yang tangguh setelah lebih dari 20 hari berjuang dari serangan Corona terhada tubuhnya.

Nita begitu panggilannya menceritakan awal mula dirinya terpapar Covid-19, katanya saat itu bermula dari suaminya yang bertugas sebagai dokter di Dusun Sungai Abang, Kabupaten Tebo.

Suaminya dr Rory Sakanov, pada Jumat 25 September 2020 mengikuti acara sunatan massal yang diadakan oleh anggota DPRD Tebo dan dihadiri oleh Anggota DPRD Propinsi dan Kabupaten. Suaminya saat itu membantu kegiatan sunatan massal itu dan hanya menggunakan face Shield serta masker saja.

"Namun Abang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) dan kondisi ramai sehingga berkemungkinan terpapar Covid-19 dari orang tanpa gejala (OTG). Peristiwa itu tanggal 25 bulan September" ceritanya kepada brito.id, Selasa (3/11).

Kata Nita, sorenya Rory masih melaksanakan praktek dokter dan Sabtu malam pulang ke Bungo. Namun Rory merasakan gejala Senin pagi.

Dia (Rory) merasakan meriang dan mulai demam. Kemudian batuk dan pilek serta timbul ruam kemerahan pada kulit. Hingga akhirnya suaminya pun kehilangan Indra penciuman.

Menyadari adanya gejala Covid-19 sehingga Rory, kata Nita melakukan isolasi mandiri. Bahkan Rory pun berinisiatif melakukan Rapid test, namun hasil negatif.

"Dikarenakan belum puas akhirnya suami saya menghubungi Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bungo Dr Safarudin Matondang untuk berkonsultasi. Kemudian bapak Safaruddin merekomendasikan untuk tes cepat molekuler (TCM). Setelah itu kita ikuti dan menunggu hasilnya empat jam dan ternyata dinyatakan positif," tutur Nita yang saat ini bekerja sebagai ASN di Dinas PMD Bungo.

Lantaran sang suami sudah dinyatakan positif, sehingga Safaruddin menyarankan agar Nita dan anaknya melakukan tes TCM, darah dan Rontgen Torax. Setelah tes menunggu hasil keluar satu keluarga ini pun masih isolasi mandiri di rumah satu hari.

"Setelah itu hasil tes keluar dan menyatakan kami juga positif Covid-19. Rasanya seperti apa, tapi kami percaya Allah melindungi kami," ujar Nita.

Pada 4 Oktober, dalam kondisi positif Covid-19 sekeluarga, Nita mengaku berinisiatif mengajukan untuk isolasi di RSUD dikarenakan posisi dirinya sedang hamil 31 Minggu atau sekitar 7 bulan. Dikhawatirkan ketika diisolasi di rumah terjadi hal tak diinginkan dan dirinya juga terjadinya penolakan dari warga, sehingga akhirnya berpindah isolasi sekeluarga dan itupun atas saran dari Dokter Safaruddin.

Yang cukup menyedihkan dirinya didiagnosis terdapat faktor pemberat Bronco pneumoni (infeksi paru-paru) dilihat dari hasil rontgen dan dalam keadaan hamil 31 Minggu. Sehingga dia harus pisah ruang isolasi dengan anak dan suami. Namun dia sangat bersyukur selama menjalankan masa isolasi banyak orang yang memberi support agar Nita dan keluarganya bisa cepat sembuh.

Dan yang dia sesali setelah sekian lama menjalani masa isolasi dan dinyatakan kondisi stabil dan tidak ada gejala tinggal menunggu hasil swab kedua dan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah saat itu terjadi penolakan. Kala itu pihak RT dan RW sudah melakukan musyawarah tidak mau menerima kepulangan jika hasil swab belum keluar.

"Saya sempat kecewa dan sedih juga sampai akhirnya hasil swab keluar meski hanya berupa foto hasil di laptop petugas Bapelkes. Apalagi saat itu surat keterangan bersama dari Bapelkes Jambi belum sampai ke Bungo. Menunggu surat itu memakan waktu lebih lama lagi diisolasi di RSUD, tentunya tidak baik juga untuk kondisi kesehatan kami yang sudah dinyatakan membaik oleh dokter dan dokter spesialis paru bahwa kami sudah tidak ada gejala," tuturnya lagi.

Disaat masa penyembuhan dari Covid-19 sebelum dibawa dan diisolasi di RSUD. Dia sudah menyiapkan suplemen dan obat-obatan. Suplemen yang dia gunakan habbatusauda kapsul. Katanya, suplemen ini ternyata ini bagus sekali untuk penyembuhan covid-19 karena membantu mencairkan dahak lengket di saluran nafas.

"Tapi saya juga dibantu suplemen lain multivitamin, vitamin C. Kemudian sari kurma, susu bear brand dan minyak kayu putih. Ini saya pakai semua karena ada faktor pemberat sehingga berpengaruh gejalanya. Hingga sempat down selama dua hari, serta sesak nafas dan harus pakai oksigen dan di nebu untuk mencairkan sesak nafas," kata Alumnus IPDN ini.

Setelah itu dirinya pun harus berusaha sendiri untuk panaskan teko air yang sudah disiapkan. Hal itu dikarenakan perawat tidak bisa bebas masuk setiap. Mereka pun hanya memantau dari CCTV kecuali jika sangat mendesak.

Bahkan berbekal pengalaman rekan-rekannya yang terpapar covid saat nafas mulai sesak diuapkan air panas dalam gelas yang dicampur minyak kayu putih. Kemudian air hangat itu diminum, hal ini ternyata ampuh untuk melegakan pernafasan.

"Jika tiba-tiba tubuh merasa seperti kehilangan energi dan nafas ngos-ngosan, maka berinisiatif minum susu beruang ditambah sari kurma, serta minum multivitamin dan vitamin C boleh merk apa saja," kata Nita berbagi pengalaman saat berupaya penyembuhan covid-19.

Segudang harapan Unita terhadap masyarakat. Meski dewasa ini masyarakat masih banyak yang tidak percaya atau meragukan Covid itu ada, dirinya sebagai mantan pasien covid menyatakan bahwa Covid 19 itu ada. Akan tetapi tidak perlu ditakutkan sehingga mengubah pola pikir menjadi terlalu protektif dengan keadaan sekitar trkhusus memperlakukan orang yang dinyatakan positif covid sebagai pesakitan dan harus dijauhkan.

"Siapapun tidak ingin terpapar covid jadi saya berharap dan mohon bantu dukungan terhadap mereka. Tidak perlu kasih apapun, kan bisa bertanya lewat WhatsApp. Padahal virus tidak akan lewat media sosial. Tidak baik memutuskan hubungan silaturahmi apalagi tetangga," pintanya.

Dia juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa orang yang terpapar Covid-19 jika imun tubuhnya bagus bisa tidak merasakan apapun. Namun setiap orang berbeda jika terpapar, ada hilang Indra penciuman, apalagi mereka yang memiliki faktor pemberat seperti sakit jantung, gagal ginjal, paru-paru, dan diabetes melitus. Katanya, Covid-19 ini mampu membuat organ tubuh lamban berfungsi, bahkan info yang dia peroleh bisa mengentalkan darah.

"Setelah nanti saya menerima hasil swab ketiga. Saya berharap hasilnya negatif. Saat ini saya dan suami serta anak masih isolasi mandiri. Apalagi dalam waktu dekat saya akan melahirkan. Kami hingga hari 16 pun sempat belum boleh bergabung. Tapi Alhamdulillah saat ini sudah bisa berkumpul berkat doa keluarga, sahabat dan teman-teman yang memberikan dukungan. Mulai isolasi tanggal 4 hingga 24 Oktober," ucap Nita yang mengaku be saat ini masih persiapan untuk kelahiran anak kedua.

Penulis: Ari Widodo