Viral PDP COVID-19 Asal Kolaka Dibawa Paksa Pihak Keluarga, Begini Penjelasan Rumah Sakit

Publik digemparkan dengan sebuah video viral yang merekam pihak keluarga pasien di sebuah rumah sakit di Sulawesi Tenggara nekat membawa pulang jenazah berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona. Dalam video memperlihatkan detik-detik bagaimana jenazah pasien yang telah dibungkus dengan plastik, diturunkan dari mobil pribadi oleh pihak keluarga sebelum dimasukkan ke rumah duka.

Viral PDP COVID-19 Asal Kolaka Dibawa Paksa Pihak Keluarga, Begini Penjelasan Rumah Sakit
Ilustrasi.

BRITO.ID, BERITA MAKASSAR - Publik digemparkan dengan sebuah video viral yang merekam pihak keluarga pasien di sebuah rumah sakit di Sulawesi Tenggara nekat membawa pulang jenazah berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona. Dalam video memperlihatkan detik-detik bagaimana jenazah pasien yang telah dibungkus dengan plastik, diturunkan dari mobil pribadi oleh pihak keluarga sebelum dimasukkan ke rumah duka.

Kejadian tersebut terjadi di RS Bahteramas Kendari. Saat dihubungi , Humas RS Bahteramas Kendari, Masyita, membenarkan kejadian tersebut.

Berikut penjelasan lengkap dari pihak RS Bahteramas Kendari.

1. Pihak rumah sakit menyayangkan sikap keluarga yang nekat bawa pulang jenazah PDP COVID-19

Pihak rumah sakit sangat menyayangkan sikap pihak keluarga karena bersikeras mengambil sendiri jenazah pasien. Padahal pihak rumah sakit telah menyampaikan agar keluarga pasien tidak membawa pulang langsung jenazah ke rumah pribadinya.

Masyita mengaku, pihaknya telah bekerja sesuai dengan standar penanganan pasien terkait kasus COVID-19. Pihak keluarga bahkan telah diinformasikan bahwa rumah sakit siap untuk menangani seluruh persoalan teknis mekanisme pemulangan hingga pemakaman jenazah.

"Kita sudah informasikan keluarganya. Tapi tetap juga keluarganya nekat (ambil jenazah). Kita sudah sesuaikan dengan aturan COVID-19. Bagaimana seharusnya diperlakukan (jenazah). Kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan negatif," kata Masyita melalui sambungan telepon dengan di Makassar, Rabu (25/3).

Pasien perempuan berusia 34 tahun itu meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis selama tiga hari, tepatnya pada Senin (23/3) siang. "Dia masih pengawasan karena belum ada hasilnya sampai hari ini," katanya.

2. PDP asal Kolaka yang meninggal merupakan pasien rujukan dari RS Bhayangkara Kendari

Masyita menerangkan, PDP virus corona tersebut merupakan pasien rujukan dari Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Pasien tersebut, kata dia, merupakan warga Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dia dirujuk setelah tim medis RS Bhayangkara sempat memberikan penanganan sementara sejak Rabu (18/3) lalu.

Di RS Bahteramas Kendari pasien diberikan penanganan lanjutan sesuai dengan standar penanganan pasien terkait COVID-19. Sempat diisolasi beberapa hari, kondisi pasien dikabarkan perlahan memburuk sebelum dinyatakan meninggal dunia, Senin lalu.

"Karena kan dia inisiatif sendiri, keluhannya demam tinggi dan beberapa lagi gejala-gejala lain. Makanya langsung kita tindak lanjuti. Mau tidak mau langsung kita isolasi," terang Masyita.

3. Hasil tes swab korban belum diumumkan Litbangkes RI

Berdasar informasi yang dihimpun pihak RS Bahteramas Kendari, pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan keluar negeri. Pertengahan Februari 2020 lalu yang bersangkutan baru saja pulang melaksanakan ibadah umrah.

Beberapa hari setelah tiba di Kolaka, pasien dikabarkan mengeluhkan kondisi sakit sebelum berinisiatif untuk memeriksakan kondisinya ke RS Bhayangkara Kendari.

Dari hasil pemeriksaan lanjutan di RS Bahteramas, pasien disebutkan terpapar bronkitis pneumonia (BP). "Direktur juga sudah mengeluarkan pernyataan itu (BP), jadi saya tidak boleh bertentangan dengan itu. Saya hanya menyampaikan dan meneruskan betul seperti itu," ungkap Masyita.

Pihak medis rumah sakit berkoordinasi dengan petugas dinas kesehatan setempat, juga telah melakukan pemeriksaan swabdengan mengambil sampel cairan tubuh pasien. Hingga kini, pihak rumah sakit, menurut Masyita, masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Litbangkes di Jakarta untuk menentukan pasien positif virus corona atau tidak.

Sumber: IDNTimes
Editor: Ari