Viral, Tradisi Mandi Darah Hewan di Muratara, Syirik?

Nazar adalah janji seseorang untuk melaksanakan sesuatu jika tujuan yang diinginkan tercapai. Nazar merupakan bagian dari bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya orang bernazar berupa puasa atau menggelar Yasinan bersama.

Viral, Tradisi Mandi Darah Hewan di Muratara, Syirik?
Tradisi mandi darah (ist)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Nazar adalah janji seseorang untuk melaksanakan sesuatu jika tujuan yang diinginkan tercapai. Nazar merupakan bagian dari bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya orang bernazar berupa puasa atau menggelar Yasinan bersama.

Ada juga bernazar mengkhatamkan bacaan Al-Quran atau bersedekah dan lain sebagainya. Namun berbeda bagi keluarga Marhana (74) dan almarhum suaminya, Jipri.

Warga Desa Pauh I, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) ini memiliki nazar yang tak lazim.

Nazarnya ketika anak cucunya dapat menyelesaikan pendidikan jenjang perguruan tinggi maka akan dimandikan dengan darah kerbau.

Abu Hendar (54), anak Marhana menjelaskan, nazar mandi darah kerbau ini dilakukannya secara turun temurun di keluarganya.

"Sudah tujuh keluarga kami yang mandi darah kerbau ini," kata Abu Hendar dihubungi, Selasa (4/8/2020).

Abu Hendar menyebutkan, tujuh keluarganya itu ialah tiga saudaranya (anak Marhana) dan empat anaknya (cucu Marhana).

"Nah yang ini anak bungsu saya baru lulus kuliah," kata Abu Hendar yang merupakan anak Marhana.

Abu Hendar mengatakan, nazar mandi darah kerbau ini dicetuskan sejak bapaknya almarhum Jipri (suami Marhana) masih hidup.

Darah kerbau yang dimandikan pun dari kerbau miliknya sendiri, karena keluarga ini memiliki banyak ternak kerbau.

"Ini sudah menjadi tradisi di keluarga kami, tapi khusus keluarga kami, bukan tradisi kampung," kata Abu Hendar.

Setiap ada anggota keluarganya yang lulus kuliah, mereka menyembelih seekor kerbau peliharaannya.

Daging kerbau itu dimakan bersama-sama keluarga dan juga dibagikan kepada tetangganya.

"Kalau ada yang lulus kuliah, kami syukuran, menyembelih kerbau, dagingnya untuk dimakan, darahnya untuk dimandikan kepada yang baru lulus kuliah tadi," ujar Abu Hendar.

Kali ini anak Abu Hendar bernama Fitri Romadona Sita yang baru saja menyandang gelar sarjana S1 jurusan Akuntansi.

Fitri Romadona (22) yang baru saja mendapat gelar sarjana harus menuruti nazar dari kakek dan neneknya.

Fitri mengungkapkan, rasanya ingin mau muntah saat mandi darah kerbau.

"Darah kerbau itu amis, saya hampir mau muntah, karena saya tidak tahan dengan baunya.

Tapi tidak masalah, karena ini nazar kakek dan nenek saya, jadi harus dituruti," ujarnya.

Nazar mandi darah kerbau oleh warga di Desa Pauh I, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) adalah nazar yang tak lazim.

Namun pemerintah desa setempat menyebutkan, nazar seperti itu sudah biasa dilakukan di desa tersebut.

"Sudah biasa, tapi bukan tradisi kampung, bayar nazar," kata Kepada Desa Pauh I, Juherman, Selasa (4/8/2020).

Menurut dia, nazar mandi darah tersebut sudah sering dilakukan oleh warganya ketika ada keinginan yang tercapai.

Tak hanya darah kerbau, ada juga warga yang bernazar mandi darah kambing hingga darah ayam.

"Kalau yang ada ternak kerbau nazar mandi darah kerbau, kalau yang beternak kambing mandi darah kambing.

Ada juga yang cuma punya ternak ayam bernazar mandi darah ayam," kata Juherman.

Ia membenarkan baru-baru ini ada warganya yang mandi darah kerbau untuk bayar nazar setelah lulus kuliah.

Sebelumnya ada juga warganya yang bernazar mandi darah kambing ketika memiliki anak.

"Ceritanya warga kami itu lama tidak punya anak, dia bernazar kalau punya anak akan mandi darah kambing. Ternyata istrinya hamil dan punya anak, dia penuhi nazar mandi darah kambing itu, ada yang seperti itu," ujar Juherman.

Ia tidak mengetahui secara pasti asal usul warganya yang suka bernazar mandi darah tersebut.

Ia juga memastikan tidak ada kepercayaan tertentu yang melatarbelakangi kebiasaan mandi darah di desanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Editor: Ari