Webinar "Restorasi Ruhiologi": LP2M UIN STS Jambi Gagas Paradigma Baru Pendidikan Holistik Transintegratif
BRITO.ID, BERITA JAMBI – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi sukses menggelar Webinar Hasil Penelitian dengan tema: “Restorasi Ruhiologi: Paradigma Baru Pendidikan Holistik Transintegratif di Era Digital.” Kegiatan ilmiah ini mendapat berbagai macam luas dari kalangan akademisi dan masyarakat nasional.
Webinar dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi LP2M UIN STS Jambi. Acara ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan—dosen, pelajar, guru, peneliti, hingga masyarakat umum dari berbagai wilayah Indonesia. Webinar dipandu oleh Sandi Maspla, M.Psi, dosen Psikologi pada Prodi Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN STS Jambi.
Konsep Ruhiologi: Pendidikan Berbasis Cahaya Ilahi
Narasumber utama webinar ini adalah Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., MSI, MH, Ph.D, Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi sekaligus penggagas konsep Ruhiologi (Ruhiology Quotient/RQ). Dalam pemaparannya, Prof Iskandar menjelaskan pentingnya mengembalikan dimensi ruhani sebagai pusat kecerdasan dalam pendidikan, yang selama ini lebih fokus pada aspek IQ, EQ, SQ, dan AI secara terpisah.
“Tanpa ruh, kecerdasan hanya menjadi alat kosong. Dengan Ruhiologi, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyucikan jiwa,” tegas Prof. Iskandar.
Menurutnya, Ruhiologi adalah pendekatan transintegratif yang menyatukan dimensi IQ, EQ, SQ, dan AI dalam satu sistem nilai pendidikan utuh, dengan Cahaya Ilahi (GodLight) sebagai pusat penggerak perilaku dan kesadaran manusia dalam setiap pengambilan keputusan bernilai ibadah.
Diskusi Dinamis, Tanggapan Akademis Kritis
Sesi diskusi berjalan aktif dan bernas. Pertanyaan pertama disampaikan oleh Dr. Frediyanto, M.Ag, Ketua LP2M UIN STS Jambi. Ia membandingkan posisi Ruhiologi terhadap konsep ruh yang menjadi urusan sebagaimana Tuhan disebut dalam QS Al-Isra: 85, serta skema implementasinya dalam dunia pendidikan.
Pertanyaan kedua datang dari Dr. Abdul Malik, M.Si yang mengapresiasi lahirnya gagasan Ruhiologi, seraya tekanan pentingnya penguatan fondasi filsafat ilmu—ontologi, epistemologi, dan aksiologi—agar konsep ini diterima luas di kalangan akademik.

Moderator Sandi Maspla, M.Psi juga memberikan pertanyaan kritis tentang bagaimana konsep Ruhiologi dapat diukur dan diterapkan secara empiris seperti teori psikologi modern.
Menanggapi pertanyaan ketiga tersebut, Prof. Iskandar menegaskan bahwa Ruhiologi tidak memasuki wilayah ruh secara esoterik, melainkan mengolah potensi ruh melalui pendidikan sadar berbasis hati nurani dan bimbingan Ilahi.
“Ruh adalah titipan Tuhan yang suci. Ruhiologi adalah ijtihad ilmiah untuk memahami bagaimana Tuhan mengatur ruh melalui energi hati nurani—yang kami sebut GodLight—yang membimbing pikiran, perasaan, dan tindakan manusia dalam kerangka ibadah,” jelas Prof. Iskandar.
Filsafat Ilmu Ruhiologi: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Prof Iskandar menjelaskan dasar-dasar filosofis Ruhiologi secara menyeluruh:
Ontologi: Ruhiologi membahas ruh sebagai dimensi inti eksistensi manusia, bukan sekadar aspek spiritual yang abstrak. Ruh dipandang sebagai entitas Ilahiah yang menggerakkan kesadaran, akhlak, dan makna hidup.
Epistemologi: Pengetahuan dalam Ruhiologi bersumber dari cahaya ruhani (GodLight), yakni suara hati nurani yang tercerahkan. Pengetahuan tidak hanya bersandar pada logika dan observasi, tetapi juga pada rasa batin yang tercerahkan.
Aksiologi: Ruhiologi membahas tujuan hidup manusia untuk melahirkan insan berakhlak mulia yang setiap perilakunya bernilai ibadah. Pendidikan seharusnya menyeimbangkan antara jasmani dan ruhani, ilmu dan hikmah, teknologi dan nurani.
Dari Konsep ke Implementasi Nyata
Prof Iskandar menegaskan bahwa Ruhiologi bukan hanya wacana teoritis, tetapi telah diterapkan secara nyata di Lembaga Pendidikan Islam Modern Diniyyah Al Azhar Jambi. Di lembaga ini, Ruhiologi diinternalisasikan dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi dengan membangun ekosistem pendidikan holistik dan pembelajaran transintegratif.
“Tujuan akhir Ruhiologi adalah melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bening jiwa, halus budi pekertinya, dan sadar akuariumnya dengan Tuhan,” pungkas Prof. Iskandar.
Webinar ini merupakan bagian dari komitmen LP2M UIN STS Jambi dalam mendorong penelitian dan inovasi keilmuan para dosen sebagai kontribusi nyata dalam menjawab tantangan zaman. Rekaman lengkap acara ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi LP2M UIN STS Jambi.
(Redaksi: Ari Widodo)

Ari W