Awal Januari, 2 Pasien DBD Meninggal di Tanjab Barat, DPRD Kritik Keras Dinkes
BRITO.ID, BERITA TANJAB BARAT - Di awal tahun 2020 di bulan Januari, sudah dua penderita DBD meningal dunia. Namun hingga kini Dinas Kesehatan belum mengambil sikap.
Wakil ketua DPRD Tanjab Barat Safril Simamora mengaku kecewa dengan kurang tanggapnya Dinas kesehatan. Menurutnya, Dinas Kesehatan memandang kasus ini sebelah mata.
"Sebagai pimpinan DPRD saya merasa kecewa. Dinas memandang masalah ini sebelah mata sebab sampai detik ini belum ada tindakan berarti. Dari data Rumah sakit Sudah dua korban meninggal dunia di bulan Januari ini. Harus berapa korban lagi Dimas Kesehatan baru bergerak. Ini tanggung jawab Dinas Kesehatan." Tegasnya yang biasa disapa Ucok Mora kepada brito.id Senin (20/1).
Ucok juga mempertanyakan anggaran fogging di Dinas Kesehatan. Pasalnya untuk biaya fogging hanya Rp 90 juta pertahun.
"Setau saya, biaya kesehatan itu 10 persen dari APBD. Jadi, jika APBD Rp 1,7 Triliun maka Anggaran Dinas kesehatan Rp 170 miliar. Kemana sisanya dan untuk apa?. Masak biaya Fogging hanya 90 juta." Ujarnya.
Ia juga mengatakan jika anggaran sebesar itu seharusnya biaya fogging bisa diperbesar. Disamping membangun fasilitas umum seperti rumah sakit, Puskesmas dan belanja pegawai, seharusnya biaya Fogging tidak dipandang sebelah mata.
"Kalau tidak mampu mengatur anggaran silahkan mundur. Jangan membesar besarkan anggaran fisik. fogging juga penting karna bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jadi harus diperhatikan." Imbuhnya.
Sementara itu, penjelasan Kasubbid bidang Program P2P Dinas Kesehatan Tanjab Barat Dian mengatakan, untuk biaya kegiatan sekali fogging di satu titik memerlukan biaya sebesar Rp 750 ribu.
"Jadi untuk biaya fogging hanya Rp 90 juta untuk 100 titik per tahun."tukasnya.
Penulis: Heri Anto
Editor: Rhizki Okfiandi
