Film Nussa Bikin Bangga Diputar di Korsel, Eko Kuntadhi Sibuk Isu Taliban, Netizen: Isu Taliban Dipake Nyerang Film Anak

Ternyata film Nussa bikin bangga Indonesia setelah dipilih ditayangkan dalam Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN)di Korea Selatan.

Film Nussa Bikin Bangga Diputar di Korsel, Eko Kuntadhi Sibuk Isu Taliban, Netizen: Isu Taliban Dipake Nyerang Film Anak
Nussa (ist)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Ternyata film Nussa bikin bangga Indonesia setelah dipilih ditayangkan dalam Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN)di Korea Selatan.

Dilaksanakan secara hybrid, pada pelaksanaannya yang ke-25 ini BIFAN melakukan pemutaran dan program festival mereka secara online dan offline. Sebagai perwakilan Indonesia, film Nussa yang disutradarai oleh Bony Wirasmono masuk pada kategori film keluarga.

Film Nussa merupakan animasi panjang pertama Visinema dan The Little Giantz, studio animasi asal Jakarta. Film NUSSA bercerita tentang seorang anak Bernama Nussa yang ingin memenangkan kembali lomba sains dan merayakan kemenangan tersebut bersama Ayahnya.

Meski di negeri sendiri jadi heboh lantaran isu miringnya oleh Pegiat Medsos. Kehebohan itu muncul setelah di Twitter, film Nussa dianggap memperlihatkan pakai khas Taliban. Komentar itu diunggah oleh akun Eko Kuntadhi.

"Apakah ini foto anak Indonesia? Bukan. Pakaian lelaki sangat khas Taliban. Anak Afganistan. Tapi film Nusa Rara mau dipromosikan ke seluruh dunia. Agar dunia mengira, Indonesia adalah cabang khilafah. Atau bagian dari kekuasaan Taliban. Promosi yg merusak!" tulisnya.

CEO dan Founder Visinema Pictures, Angga Dwimas Sasongko yang menggarap film Nussa pun tak mau memberi komentar tentang isu tersebut. Ia memilih untuk fokus dengan tema film Nussa.

"Harus Anda pahami, itu bukan promo ke luar negeri, tapi filmnya dipilih pihak Bucheon International Fantastic Film Festival. Dipilih oleh kurator festivalnya," ungkap Angga kepada detikcom, Senin (21/6/2021).

Ia juga mengirim sinopsis film Nussa yang menceritakan tentang seorang anak yang ingin membuat ayahnya bangga. Nussa juga dikisahnya sebagai murid pandai yang ikut dalam kompetisi sains di sekolahnya.

"Berencana untuk mengesankan ayahnya yang akan pulang setelah setahun di luar negeri, Nussa, anak cerdas berusia 9 tahun, berpartisipasi dalam kompetisi sains di sekolahnya. Namun ketika ia menerima kabar bahwa ayahnya membatalkan perjalanan pulang dan tidak dapat hadir dalam kompetisi, dan pada saat yang sama seorang siswa baru yang cerdas bernama Jonni, menjadi saingannya dalam kompetisi sains itu. Nussa belajar arti sebenarnya dari rasa syukur," bunyi sinopsis tersebut.

Gara-gara kicauannya itu, Eko Kunthadi pun mendapat banyak komentar nyinyir di Twitter.

"Saya coba nonton isinya pesan2 kebaikan, bagus2, lebih banyak pesan moral dibandingkan twit anda mnurut saya," tulis netizen.

"Hoalah mas. Tak kira sampean ngga gini banget. Gampang banget mengkotak²kan sesuai apa yg terlihat, eh malah gini," kicau netizen lain yang dibalas olehnya.

"Pakaian itu representasi orang. Kalau tiap hari anak lelaki pakai daster, budaya apa yang mau dicangkokan ke anak Indonesia?" balas Eko.

Pegiat antikorupsi yang pernah jadi juru bicara KPK, Febri Diansyah juga ikut berkomentar.

"Bahkan isu Taliban dipake nyerang film anak Nussa dan Rara.. ckck.. hanya karena pakaian yg dikenakan. Saya nonton sejumlah film2 tersebut bersama anak2, dan saya menemukan banyak sekali pesan dan nilai2 positif. Isu murahan Taliban ini juga yg dulu dgunakan menyerang KPK," kicaunya yang diretweet oleh Angga Dwimas Sasongko.

Sumber: detikcom

Editor: Ari