Malam Mencekam di Bungo, Kapolres Cek Alat Berat Diduga Bakal Digunakan PETI

Malam Mencekam di Bungo, Kapolres Cek Alat Berat Diduga Bakal Digunakan PETI
Kapolres Bungo AKBP Natalena Eko Cahyono saat menghentikan kendaraan yang membawa alat berat menuju Rantau Pandan malam ini Rabu (29/10). (N.EKO)

BRITO.ID, BERITA BUNGO – Isu aktivitas alat berat yang beroperasi di malam hari kembali memicu kegelisahan publik di Kabupaten Bungo. Dalam percakapan grup WhatsApp “Forum Peduli Perubahan”, sejumlah anggota menyoroti dugaan kuat bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masih marak terjadi di wilayah itu.

Percakapan di grup itu mencuat setelah beredar foto dan video memperlihatkan alat berat, diduga ekskavator, beroperasi di tengah malam dengan lampu sorot menyala terang. Yang menarik, postingan tersebut diunggah langsung oleh Kapolres Bungo AKBP N. Eko Cahyono, yang menuliskan komentar, “Kami tidak tidur pak,” dan “Alat alasan untuk staking lahan.”

Kapolres Bungo juga mengajak semua yang mau ikut mengawal alat berat itu tujuan yang beralasan staking. 

"Ayo yang ingin ikut saya silakan, saat ini menuju arah rantau pandan. Kita coba lihat alat ini turunnya dimana dan untuk apa?," Kata Kapolres.

Unggahan itu sontak memicu reaksi dari sejumlah anggota grup. Beberapa menyayangkan lambannya penindakan terhadap aktivitas yang disinyalir merusak lingkungan tersebut.

“Ketika hukum hanya menonton, alam yang jadi korban. Ekskavator bekerja siang malam, tapi nurani seolah tertidur. Siapa yang terlibat, siapa yang bisa jawab?” tulis salah satu anggota dengan nada kecewa.

Anggota lain menyerukan langkah konkret. “Giring bang, bawa ke Polres semuanya,” tulis seorang peserta diskusi. Sementara itu, akun Ari Buana TV menegaskan, “Gas pak, jangan banyak alasan yang membawa alat berat, ujung-ujungnya PETI juga.”

Seruan keras datang dari Rio Peninjau Afrizal Padams, tokoh masyarakat yang aktif dalam forum tersebut. Ia mengajak seluruh elemen warga bantaran Sungai Batang Bungo untuk bersatu menolak aktivitas penambangan ilegal.

“Kalau cinta aliran Batang Bungo, kompaklah semua elemen masyarakat. Tutup jalan, tahan alat berat yang lewat. Kalau tak jelas tujuannya, usir keluar,” tegas Afrizal.

Ia juga mengingatkan bahwa aparat tidak bisa bekerja sendirian tanpa dukungan masyarakat. “Pak bupati, Polri, dan TNI bukan robot yang bisa kerja siang malam. Berantas PETI harus didukung semua pihak,” ujarnya.

Pesan lain menyinggung soal lambatnya tindakan aparat, seolah menunggu insiden lebih besar. “Tunggu sudah ado korban, baru disempat-sempatkan waktunyo lai,” tulis anggota lain.

Menanggapi keresahan itu, Kapolres Bungo AKBP N. Eko Cahyono menyatakan sedang meninjau langsung lokasi yang dimaksud. “Ini kami mau antar sampai lahan yang dimaksud,” tulisnya dalam grup tersebut.

Ia juga membuka ruang bagi media yang ingin ikut turun ke lapangan. “Siapa media yang mau ikut, silakan nyusul,” katanya.

Aktivitas PETI di Kabupaten Bungo memang sudah lama menjadi persoalan serius. Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, kegiatan ilegal ini juga memicu persoalan sosial dan hukum di masyarakat.

Selama ini, Polres Bungo bersama pemerintah daerah telah beberapa kali melakukan operasi penertiban, mulai dari pembakaran rakit dompeng hingga penyitaan alat berat dan penahanan pelaku. Namun, dugaan adanya modus baru berupa “staking lahan” dengan alat berat di malam hari membuat warga kembali resah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan PETI belum benar-benar selesai. Kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam memberantas praktik tersebut.

Seruan dan diskusi di grup WhatsApp “Forum Peduli Perubahan” menjadi bukti nyata bahwa kepedulian warga terhadap lingkungan masih tinggi. Kini, publik menunggu tindakan nyata agar aktivitas PETI tak lagi mencemari sungai dan merusak alam di Bungo.

Reporter: Ari Widodo  

Editor: BRITO.ID Official

Sumber: Grup WhatsApp Forum Peduli Perubahan dan laporan warga Bungo