Revitalisasi Monas, Anies Baswedan Masih Bungkam

Revitalisasi Monas, Anies Baswedan Masih Bungkam
Monas dengan kondisi (ist)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengakui kurang awas dalam merevitalisasi kawasan selatan Monumen Nasional (Monas). Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Saefullah terkait alasan terhentinya proyek senilai Rp 64,5 miliar tersebut. Namun, hingga saat ini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan enggan menanggapi hal ini.

"Mungkin ada kelalaian di antara semuanya ini dan itu (biasanya) tidak pernah dilakukan," kata mantan Wali Kota Jakarta Pusat ini di Balai Kota Jakarta, Kamis 30 Januari 2020.

Oleh karena itu, Pemprov DKI dikatakannya harus berbenah, khususnya dalam urusan administrasi. Dalam hal ini, Saefullah mengakui Pemprov DKI belum mengajukan izin kepada Kementerian Sekretaris Negara dalam Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1995.

"Demi tertib administrasi kita bersurat, Pak Gubernur juga sudah bersurat," katanya.

Sebelumnya, revitalisasi yang dilakukan sejak medio November 2019 itu menuai kritik di media sosial. Pasalnya, proyek itu disebut-sebut menebang ratusan pohon di saat Jakarta, yang baru saja tergenang banjir dan membutuhkan resapan air yang lebih banyak.

Masalah ini kian bersengkarut lantaran DPRDDKI mencium revitalisasi melabrak Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 1995. 

Dalam rapat Komisi D DPRD DKI pada 22 Januari 2020, Pemprov DKI juga tak dapat menunjukkan dokumen persetujuan dari Mensesneg sebagaimana tercantum dalam Keppres.

Ketua DPRD Prasetyo Edi Marsudi pun meminta proyek tersebut dihentikan. 

"Kami meminta kepada eksekutif untuk dihentikan sementara selama surat (izin) dari Kementerian (Sekretaris Negara) belum ada," kata Prasetyo di Jakarta, Selasa 28 Januari 2020.

Sementara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih tutup mulut sejak proyek ini menjadi sorotan publik. Terakhir, mantan Mendikbud itu mengelak saat ditanya wartawan terkait revitalisasi Monas. “Enggak, enggak,” ucap Anies Baswedan sambil berlalu.

Sumber: tagar.id
Editor: Ari